kelompok studi seni, sastra dan penulisan kreatif


  • RISET

    Salah satu project riset seni rupa yang dilakukan Yayasan Sahaja Sehati pada tahun 2020, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, untuk koleksi karya seni yang terdapat di gedung Mahudara Mandara Giri Bhuana, Taman Budaya Provinsi Bali

  • RISET

    Proses Pendokumentasian dan Inventarisasi Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuana Taman Budaya Provinsi Bali

  • TIMBANG BUKU

    Membedah buku Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuvana bersama kurator Dr. Drs. I Ketut Muka P., M.Si., dan Warih Wisatsana dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani II tahun 2020

  • TIMBANG PANDANG

    Diskusi Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa buku Gajah Mina karya Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan yang diselenggarakan Yayasan Sahaja Sehati.

  • RISET

    Proses wawancara, pendokumentasian dan perekaman proses kreatif salah satu seniman maestro Bali Bapak I Gusti Ngurah Gede Pemecutan untuk seri dokumenter Werdhi Cipta sang Mumpuni

Tampilkan postingan dengan label Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riset. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2020

Dokumenter 5 Maestro: Werdhi Cipta Sang Mumpuni

Pembangunan Taman Budaya Provinsi Bali sebagaimana mula awal digagas oleh alm. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1969, dirancang hadir sebagai pusat tumbuhnya kesenian dan kebudayaan di Bali. Kehadirannya Taman Budaya juga menjadi bagian dari upaya pelestarian dan penggalian nilai-nilai serta potensi warisan budaya yang hidup di masyarakat. Salah satu sarana atau fasilitas untuk mewadahi nilai-nilai serta potensi warisan budaya yakni dengan didirikannya Gedung Pameran Utama Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB), diresmikan tahun 1973 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kala itu, Mashuri, S.H. 

Taman Budaya Provinsi Bali merupakan ruang beragam peristiwa budaya penting tingkat lokal, nasional, dan internasional. Tersimpan pula berbagai koleksi karya seni karya maestro pendahulu yang berharga. Capaian para maestro, tak lepas dari kehadiran Taman Budaya Provinsi Bali sebagai rumah kreasi, ruang ekspresi dan apresiasi, serta laboratorium penciptaan seni yang tak pernah surut oleh waktu.

Film Dokumenter 5 Maestro : Werdhi Cipta Sang Mumpuni (2020) menghadirkan proses kreatif dan kisah latar belakang penciptaan dari 5 tokoh mumpuni, di antaranya : Ni Made Rusni (Seni Pertunjukan Tradisi Arja), I Wayan Jebeg (Karawitan), Umbu Landu Paranggi (Sastra), Made Wianta (Seni Rupa), dan I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (Seni Rupa). 

Film dokumenter ini diproduksi oleh UPTD. Taman Budaya Provinsi Bali, didukung oleh Rumah Penggak Men Mersi bekerja sama dengan Sahaja Sehati. 

Taman Budaya Provinsi Bali menyimpan warisan budaya luhur dalam bentuk tangible atau intangible yang tak ternilai dari para maestro. Hal tersebut dapat dikelola di masa mendatang sebagai sumber riset atau kajian bagi peneliti Indonesia maupun mancanegara. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemikiran dan menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa, baik itu tataran filosofis maupun tataran praktis.

Menimbang visi luhur tersebut, patut kita semua turut bersemangat dalam kreativitas seni serta menjaga dan merawat  keberadaan Taman Budaya Provinsi Bali.

Ni Made Rusni

Siapa yang tidak mengenalnya, Ia memang maestro dramatari arja. Bukan hanya piawai mengolah tubuhnya, menghadirkan gerak yang lincah dan memikat, serasi se-iring gamelan. Namun juga mumpuni merangkai kata yang spontan dan segar, tak pelak penonton pun menyambutnya meriah.

Penampilannya selalu ditunggu-tunggu di Pesta Kesenian Bali yang diadakan di Taman Budaya Provinsi Bali. Itulah sosok Ni Made Rusni, lahir tahun 1952 di Singapadu, Gianyar. Kini menetap di Banjar Puseh Kangin, Sanur, Denpasar.

Kesehariannya tidak bisa lepas dari kesenian arja yang dilakoninya sejak usia delapan tahun. Membawakan tembang lagu Bali yang digunakan dalam pementasan seni Arja memang kesenangannya sejak kecil. 

Tahun 1960, ia mulai belajar tari arja di Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar. Setelah terampil menguasai gerak dan tari arja, kemudian bergabung dengan Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar dan mendapat peran sebagai Desak Rai dalam pementasan berjudul “Kelimun Hilang Serepet Teke”.

Istri dari I Made Kunawijaya, dan Ibu dari tiga putra Made Suarya, I Nyoman Sujena, dan I Ketut Arsana ini tergabung di dalam sekaa Wija Ratnadi RRI Denpasar mengemban misi kesenian arja. Bersama sosok lainnya, seperti: Ni Ketut Ribu, Monjong, Made Monog, Ruju, Candri, Liges, dan Cok Rai Partini, ia adalah tokoh Dramatari serta penembang lagu dalam pementasan drama tari arja.

Sejak pementasan arja bertajuk “Godogan” perannya sebagai Desak Rai berubah menjadi Galuh Liku hingga sekarang. Siaran drama tari arja RRI Denpasar kala itu, setiap Minggu pukul 10.00 – 12.00 WITA, menjadi favorit masyarakat Bali.

Ni Made Rusni sempat pentas keliling Pulau Dewata serta tampil di Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi. Selain itu, ia senantiasa bersenang hati melatih generasi muda yang tertarik mempelajari kesenian Bali, khususnya tari arja. Ia menerima anugerah Seni Dharma Kusuma, penghargaan tinggi dari Pemerintah Provinsi Bali pada 14 Agustus 2007. 

I Wayan Djebeg

Sukawati memang terkenal melahirkan seniman-seniman sohor, namun bila menyebut maestro Tabuh, seketika orang akan teringat I Wayan Jebeg. Dilahirkan di Banjar Batur, Batubulan, Sukawati, Gianyar, tahun 1932, sedini kanak-kanak telah menekuni seni, terutama gamelan. Walau lahir dari keluarga kurang berada, ia memiliki semangat tinggi untuk belajar. Ketika ia duduk di kelas 3 SR (Sekolah Rakyat) tahun 1942, Jebeg tertarik menjadi penari gandrung. Sosoknya yang tinggi langsing dengan mudah memikat penonton, terlebih lagi gerak dan liuk tubuhnya yang serasi mengikuti irama gamelan. 

Semangatnya yang tak kenal putus asa untuk menekuni kesenian, dan dilakukannya secara otodidak, akhirnya mengantar Jebeg meyakini bahwa panggilan hidupnya adalah menjadi seorang seniman, yang terbukti mumpuni. Ia menabuh bersama sekaa gong banjarnya, tampil dari desa ke desa. Berkat keahliannya menguasai berbagai jenis gamelan, pada tahun 1962 ia mendapatkan pekerjaan di AJENDAM KODAM Udayana. Selama 27 tahun Jebeg berkeliling Indonesia bermain gamelan menghibur masyarakat, terlebih warga Angkatan Darat yang pada umumnya mencintai kesenian Bali. Ia juga pernah tampil di Amerika, Jerman, Italia, India serta Jepang.

Kakek 15 kompi dan 10 cucu ini dikenal sebagai pencipta tabuh klasik Lelambatan. Karya-karya Jebeg selalu memiliki ciri dan karakter tersendiri. Karena kepiawaiannya Jebeg didapuk sebagai guru luar biasa di Kokar selama 10 tahun (1989-1998) serta dosen luar biasa ASTI Denpasar yang kemudian menjadi STSI dan kini ISI Denpasar.

Taman Budaya Denpasar menjadi saksi kemaestroannya sebagai penabuh. Setiap Pesta Kesenian Bali, ia hadir bersama sekaa gongnya dan selalu mendapat sambutan hangat dari para penonton. Jebeg, memang sejak tahun 1982, ditunjuk sebagai penabuh Gong Kebyar duta Kabupaten Gianyar. Ia mahir memainkan Terompong dan Kendang, dan sebagai seniman muda, ia bangga bisa tampil pada ajang tahunan bergengsi tersebut. Apalagi sejak tahun 1985 ia didapuk sebagai pembina sekaa Gong Kebyar Kabupaten Gianyar. 

Tahun 1985, Ia sempat meraih Piagam Penghargaan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI dari Menteri Sudharmono SH; Piagam Wijaya Kusuma tahun 1986; Piagam Dharma Kusuma Madia Tahun 1987; Piagam Pesta Seni tahun 1991. 

Made Wianta

Maestro Made Wianta lahir 20 Desember 1949 di Apuan, Tabanan, Bali. Tahun 1967-1969, ia belajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia di Denpasar. Ia melanjutkan pendidikan seninya pada tahun 1975-1977 di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Selama 1975-1977, Ia menetap di Brussel, Belgia untuk menambah pengalaman di bidang seni.

Karyanya telah banyak dipamerkan, baik pameran bersama maupun tunggal. Pertama kali pameran bersama tahun 1968 di Museum Bali. Di tahun 1976, Wianta pertama kali mengadakan pameran tunggal di Cultural Jacques Frank, di Brussel, Belgia. Selanjutnya karyanya tercatat pernah dipamerkan di Jepang, Singapura, Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, Amerika, Italia, Guam, Uni Emirat Arab, dan berbagai negara lainnya.

Made Wianta telah menerima berbagai penghargaan. Diantaranya adalah “Honorary Professor” dari Academico Internationale Greci-Marino di Italia (1996); “The Most Admired Man of Decade” dari American Biographical Institute di Amerika (1997); “Dharma Kusuma” dari Pemerintah Propinsi Bali (1998); “The Longest Handwritten Poem Writer” dari MURI (2000); “Ajeg Bali Figure Award” dari HIPMI (2003); Penghargaan dari Junior Chamber International (2007); dan “Echosscape Wianta Galaxy” di Jepang (2008), serta masih banyak lagi. 

Made Wianta bersama Komunitas Sahaja

Tahun 1999, ia menyelenggarakan pertujukan seni “Art and Peace” melibatkan 2000 penari remaja dengan koreografi mengikuti gerak ombak. Made Wianta merespon kondisi sosial politik pasca Orde Baru yang penuh kekerasan dan cenderung chaos. Pembentangan kain sepanjang 2000 meter itu bertuliskan kata-kata perdamaian dari para tokoh dunia dalam beragam Bahasa yang dijatuhkan dari helikopter dan terhampar sepanjang Pantai Padang Galak, Denpasar.

Dalam karya-karyanya, Made Wianta piawai dalam mengkombinasikan berbagai unsur, estetis, konseptual, lokal maupun universal, serta unsur masa kini dan masa lalunya. Maestro Made Wianta berpulang pada 13 November 2020 di Denpasar.

I Gusti Ngurah Gede Pemecutan

I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, maestro dengan karakter dan ciri karya yang khas. Ia pelopor teknik melukis dengan menggunakan sidik jari. Pria kelahiran 9 Juli 1936 ini mendapatkan berbagai penghargaan dari Pemerintah Provinsi Bali, award tingkat nasional, bahkan REKOR MURI. 

Ia pernah bekerja di Perusahaan Tekstil Balitex lalu pindah ke PT. USINDO Cabang Denpasar yang kini menjadi PN Cipta Niaga setelah sempat menjadi Perusahaan Negara Jaya Bhakti. Di Jaya Bhakti ia mendapat tugas mengumpulkan dan menseleksi barang-barang seni dan kerajinan Bali (lukisan dan patung-patung) untuk di ekspor. 

Tahun 1963 ia mulai melukis secara modern. Ia pelukis ototidak tekun bereksprimen dan tak pernah mengenal lelah mencari bentuk dan Ngurah Gede Pemecutan berkisah awalnya ciri khas itu muncul saat ia mengerjakan sebuah lukisan tari baris, tepatnya pada tanggal 9 April 1967. Lukisan itu tak kunjung selesai, menimbulkan kekesalan yang membuatnya berniat merusak lukisan itu dengan menempelkan jemarinya yang penuh cat. Setelah beberapa waktu ditinggalkan, Ia merenungi lukisannya tersebut dan muncul inspirasi untuk menciptakan lukisan dengan jari telunjuk.

Ia tak Cuma seorang pelukis namun juga seorang organisator. Tahun 1966 ia mengkoordinir sekaa gong Puri Pemecutan. Sejak 1966 ia menghimpun kurang lebih 50 seniman pahat dan lukis untuk melangsungkan pameran tetap di Puri Pemecutan hingga tahun 1978 dengan nama sanggar kesenian Puri Pemecutan.

Ia kemudian mengkoordinir pementasan sekaa gong secara tetap di Puri Pemecutan untuk konsumsi wisatawan. Tercatat sekaa gong Banjar Geladag, Sidakarya, Renon, Beraban, Bagawan, Padangsambian, Kerobokan pernah pentas di Puri Pemecutan berkat jasanya. Tahun 1975 ia memimpin sekaa gong Puri Pemecutan mewakili Indonesia dalam festival musik dan seni tari rakyat Asia di Tokyo. Dalam festival seni tari Asia di Hongkong tahun 1977, ia memimpin rombongan seni tari Bali untuk mewakili Indonesia.

Salah satu karya terbaik Ngurah Gede Pemecutan adalah lukisan yang mengisahkan tentang peristiwa perang Puputan Badung. Pada lukisan tersebut digambarkan suasana pertempuran antara pasukan Badung yang dipimpin raja Pemecutan melawan pasukan Belanda. Pada akhir pertempuran seluruh pasukan Pemecutan gugur dan hanya tersisa 2 orang bayi yang selamat. Karya yang memakan waktu pengerjaan hingga 18 bulan ini tak lain menceritakan tentang ayahanda Ngurah Gede Pemecutan sendiri, yaitu Anak Agung Gede Lanang Pemecutan.

Ngurah Gede Pemecutan memang memiliki perhatian besar kepada generasi muda, sehingga Museum Lukisan Sidik Jari pun tak lepas dari visi menginspirasi tersebut. Karena itu sejak awal penggagasannya, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai wahana untuk mengabadikan karya sang maestro, tetapi juga menjadi sebuah wahana pendidikan. Selain ruang pameran, museum ini pun secara rutin mengadakan kelas tari serta melukis bagi anak-anak dan remaja.

Umbu Landu Paranggi

Umbu Landu Paranggi, lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Umbu melanjutkan sekolah di SMA BOPKRI I Yogyakarta, kuliah di Jurusan Sosiatri, Fakultas Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Hukum, Universitas Janabadra.

Sejak 1978 Umbu menetap di Bali dan pada Juli 1979 menjadi redaktur sastra di harian Bali Post. Seperti yang dilakukannya di Pelopor Yogya, di ruang sastra Bali Post Umbu dengan setia, tekun, dan telaten, menyemai dan merawat benih-benih sastrawan hingga tumbuh menjadi sosok-sosok yang dikenal dalam kesusastraan Indonesia, seperti Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta, Cok Sawitri, dan sebagainya. 

Atas prakarsa sahabat karib Umbu, Tjie Jehnsen, pada 2019 diterbitkan sebuah buku berjudul “Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”. Buku tersebut berisi sejumlah tulisan tentang kiprah Umbu dalam kesusastraan, foto kenangan, dan juga puisi-puisi Umbu. Umbu pernah mengasuh ruang sastra di mingguan Pelopor Yogya dan turut mendirikan Persada Studi Klub. Pada masa itulah Umbu dijuluki sebagai Presiden Malioboro. 

Umbu memperoleh anugerah kebudayaan, antara lain Anugerah Kebudayaan 2018 dari Fakultas Ilmu Budaya, Univertitas Indonesia, Anugerah Dharma Kusuma 2018 dari Pemerintah Provinsi Bali, Penghargaan Pengabdian pada Dunia Sastra dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada tahun 2019, Penghargaan Akademi Jakarta pada tahun 2019, Bali Jani Nugraha 2020 dari Pemerintah Provinsi Bali. Hingga kini Umbu masih menetap di Bali dan aktif membina komunitas Jatijagat Kampung Puisi.

Dokumenter "Werdhi Cipta Sang Mumpuni" 


Bagikan:

Senin, 30 November 2020

Inventarisasi Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuvana Taman Budaya Provinsi Bali

Taman Budaya Provinsi Bali yang digagas oleh alm. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1969, sedini mula dirancang sebagai pusat tumbuhnya kesenian dan kebudayaan Pulau Dewata. Seturut upaya Taman Budaya melakukan pelestarian dan penggalian nilai-nilai serta potensi warisan budaya yang hidup di masyarakat, diresmikanlah Gedung Pameran Utama Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB) pada tahun 1973. 

Keberadaan Gedung Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB) Taman Budaya Provinsi Bali dapat dipandang sebagai mata air ilham bagi para seniman dan kreator kini dan masa depan, menimbang tak sedikit dari karya tersebut yang terbilang masterpiece, baik dari seniman-seniman Bali pendahulu yang legendaris, semisal I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kobot, A.A. Gede Sobrat, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made Poleng, atau yang mumpuni: I Nyoman Cokot, Mangku Tama (pematung), Dewa Putu Bedil, A.A. Gde Raka Turas, Dewa Putu Mokoh, I Ketut Madra, I Ketut Rungun, I Dewa Nyoman Batuan, I Wayan Bendi, dan lain-lain; hingga perupa modern sohor dari berbagai latar sosial kultural, seperti Hendra Gunawan, I Nyoman Tusan,  Agus Djaya, Kay It Tanaya, Abdul Aziz, Prof. Dr. RM Murdowo Frsa, Ida Bagus Tugur, I Gusti Ngurah Gde Pemecutan, PN. Wardana, A.A. Raka Suwasta, berikut seniman-seniman yang tak kalah terpandangnya seumpama, Nyoman Gunarsa, Prof. Rai Kalam, Made Wianta, Pande Supada, I Made Bendi Yudha, dan sebagainya. 

Maka sungguh sebuah langkah yang tepat sekaligus strategis melaksanakan program Inventarisasi Koleksi Seni di Gedung Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB) Taman Budaya Provinsi Bali Tahun 2020. Hal mana mengingat bahwa keberadaan karya-karya seni tersebut sangat berharga, bukan saja karya-karya terpilih dari para seniman mumpuni, melainkan juga secara keseluruhan mencerminkan capaian penciptaan sekaligus elan kreatif lintas generasi. Dengan demikian, koleksi ini bukan hanya sesuatu yang tangible (berwujud), melainkan juga warisan kultural intangible (budaya lisan, historis, warisan teknik, stilistik, estetik, serta ragam tematik) yang tak ternilai dari para maestro pendahulu; yang dapat dikelola sebagai sumber riset atau kajian bagi peneliti Indonesia maupun luar negeri; juga sarana edukasi guna memperoleh pemahaman sejarah dan kedalaman makna setiap karya seni yang terkoleksi di Gedung MMGB. 

Program Inventarisasi Koleksi Seni tahun 2020 ini juga terbilang tepat, terlebih pendataan terakhir pada tahun 2019 lalu hanya menginventarisasi sebagian kecil koleksi karya seni di Gedung MMGB Taman Budaya, yakni 15 karya seni lukis saja. Jumlah tersebut tidak lebih 3% dari keseluruhan koleksi seni yang terdata pada program inventarisasi tahun 2020. 

Melalui program kali ini, telah terinventarisasi sejumlah koleksi karya seni yang terpajang di lantai 1 dan 2 Gedung MMGB; terdiri dari seni lukis karya-karya seniman Bali pendahulu (Ruang I & III), yang secara stilistik, tematik atau estetik mengembangkan corak dan nilai-nilai tradisi, serta melakukan inovasi yang terbilang mempribadi. Seni lukis modern (Ruang V & VI); patung; pandil; topeng; serta wayang (Ruang II); juga karya seni patung; kerajinan perak; keramik; dan kriya lainnya (Ruang IV). Total terdata adalah 432 karya seni yang terdiri dari; 156 lukisan, 111 patung, 7 pandil, 33 topeng, 22 wayang, 59 kerajinan perak, 24 kerajinan keramik, 2 kerajinan pis bolong, 2 kerajinan beruk, 2 kerajinan telur, 3 kerajinan bambu, 4 ukiran tulang, 5 ukiran gading, dan 2 krupak lontar. 

Sedini awal pelaksanan inventarisasi pada Juli 2020, Yayasan Sahaja Sehati yang dipercaya sebagai tim pelaksana, bersama kurator dan tim pendukung, melakukan pendalaman pada riset awal. Pertama terkait kondisi dan penempatan karya-karya seni di Gedung MMGB secara keseluruhan. Sejurus itu, tim juga melakukan pengumpulan data awal baik dari internal maupun wawancara pada pihak-pihak yang dipandang kompeten, sehubungan keberadaan karya-karya seni yang terdapat di Taman Budaya. Selain pengumpulan data dimaksud, tim pendukung berikut kurator, melakukan riset kepustakaan, terutama terfokus pada keberadaan dan sejarah Taman Budaya; khususnya Gedung MMGB. Merangkum data dan fakta sejumlah peristiwa pameran yang pernah berlangsung di Taman Budaya, di mana terbukti kemudian bahwa sebagian karya-karya yang menjadi objek inventarisasi sempat menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa pameran dimaksud. 

Melalui pelaksanaan tahapan awal inventarisasi, segera dapat dipetakan berbagai hal yang memerlukan perhatian tersendiri dalam rangka validasi data dan fakta menyangkut keberadaan koleksi karya seni. Ditemukan sejumlah ketidaksesuaian informasi (judul, nama seniman, ukuran, medium, tahun penciptaan). Ada beberapa karya seni patung dan kerajinan yang anonim (belum tertera nama pada caption) juga dalam penjelasan dari data yang ada. 

Mengingat minimnya data yang tersedia, secara resmi di Taman Budaya maupun dari sumber-sumber dokumentasi resmi lainnya; maka berbagai data tersebut divalidasi oleh tim inventarisasi melalui penggalian informasi pada sumber pustaka yang dipandang sahih yakni buku-buku seni rupa terpandang antara lain: Buku Pita Prada ditulis oleh Agus Dermawan T. Jean Couteau, dan Kun Adnyana; Bali Bravo oleh Agus Dermawan T. dan Jean Couteau; Siyu Taksu Bali oleh Agus Darmawan T. dan Jean Couteau; Tradisi dan Reputasi (Pameran Lukisan Tradisional Bali 100 Tahun); Inventing Art: The Paintings of Batuan Bali; Biografi I Gusti Nyoman Lempad “Lempad for The World” oleh I Wayan Seriyoga Parta; Para Anak Mengganggu Men Brayut: I Gusti Nyoman Lempad oleh I Made Susanta Dwitanaya; Perjalanan Seni Rupa Indonesia: dari Zaman Pra Sejarah hingga Masa Kini; Perjalanan Seni Lukis Indonesia (Koleksi Bentara Budaya, terbitan KPG); Katalog Pameran Komunitas Kambodja; Katalog Pameran Pelukis Muda se-Indonesia (1977); Katalog Pameran Pesta Kesenian Bali (1979); Katalog Pameran Perkembangan Seni Lukis; Pahat dan Patung Bali di Taman Budaya Denpasar (1986); Katalog Pameran Pesta Kesenian Bali (1986); Katalog Pameran Seni Terapan 1993-1994 Seni Kriya dalam Budaya Masa Kini; Katalog Pameran Retroscpective I Nyoman Mandra di Griya Santriyan Gallery; Pameran Pekan Seni Lovina (1998); Pameran Seni Lukis Akhir Tahun STSRI Yogyakarta (1991); Katalog Pameran Topeng Singapadu (2017); termasuk sejumlah tulisan lepas yang dimuat dalam jurnal ilmiah; Women, Tradition and Art History in Bali oleh Siobhan Campbell, Proses Dan Visualisasi Seni Lukis I Nyoman Mandra oleh Made Hendra Sasmita, Resensi Pameran Seni Rupa Mencari Dialek Visual Buleleng oleh Hardiman, Balinese Art versus Global Art oleh Adrian Vickers, Profil Pelukis Buleleng Setelah Masa Kemerdekaan Sampai Sekarang oleh I M. Suastika Yasa dkk, Matjong, a Master Painter of Late Colonial Bali oleh Thomas L. Cooper, hingga database dan komunitas seni rupa di Bali. Lebih jauh dapat disimak pada daftar pustaka. 

Pendalaman data, wawancara awal, serta riset kepustakaan dan dokumentasi ternyata masih menyisakan berbagai pertanyaan terkait validasi data karya dan informasi tentang seniman penciptanya. Bukan suatu kebetulan bila akhirnya tim inventarisasi dapat bertemu saksi atau tokoh sejarah yang memungkinkan ditelusurinya informasi-informasi mendasar yang diperlukan. Sosok-sosok tersebut rata-rata sudah berusia lanjut, sekitar 80 tahun, semisal pelukis I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (85) dan A.A. Raka Suwasta (81) dan Tjandra Kirana (76), Made Tubuh (79), Intan Wianta (69, Istri pelukis Made Wianta). Mereka bukan saja diminta informasi seputar data karya masing-masing, melainkan juga digali data dan fakta menyangkut koleksi karya yang terhampar dinding Gedung MMGB. 

Penelusuran juga dilakukan dengan mewawancarai langsung seniman-seniman yang masih hidup atau keluarga yang bersangkutan, diantaranya pelukis I Gusti Made Tirtha (Ubud), Wayan Sujana (Karangasem), Ida Bagus Alit (Denpasar), A.A. Gde Rai Sudjana (Padangtegal) melalui sang anak Anak Agung Purnawan, I Ketut Madra (Ubud) melalui sang anak yakni pelukis Made Beratha, juga kepada Mangku Muriati (anak Mangku Mura), dan tidak ketinggalan pelukis yang termasuk paling muda yang karyanya dikoleksi Gedung MMGB, I Ketut Suasana ‘Kabul’. 

Memang konfirmasi langsung tidak bisa dilakukan secara menyeluruh, mengingat sebagian besar seniman yang bersangkutan sudah sepuh dan bahkan tak sedikit yang telah berpulang. Penelusuran atau upaya validasi sebagaimana karya I Gusti Nyoman Lempad,  Hendra Gunawan, Mangku Mura dan Pan Semari (Kamasan), juga kami terapkan pada karya-karya lainnya yang dirasa memerlukan pendalaman dan kepastian. 

Wawancara berkali juga dilakukan bersama I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, mengingat yang bersangkutan selain sebagai pelukis yang karyanya terkoleksi Taman Budaya, juga merupakan salah satu sosok yang dipercaya oleh Gubernur Bali kala itu, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra untuk merintis pengkoleksian benda dan karya seni di Taman Budaya atau disebut Werdhi Budaya dan dikenal dengan sebutan Art Centre. Demikian pula komunikasi dengan fotografer sekaligus pelukis, Tjandra Kirana, dilakukan berkali, tujuannya tidak lain adalah menemukan data historis yang sebenarnya, terutama sehubungan dengan aktivitas Sanggar Kambodja pada masa tahun 70-80an, yang sebagian karya mereka menjadi koleksi MMGB. 

Data karya dan pencipta juga divalidasi bukan hanya menyangkut sosoknya, melainkan juga stilistik, tematik, dan estetik. Sejumlah wawancara dilakukan dengan para pengamat, pelaku (seniman) dan pencinta seni rupa yang kredibel di antaranya, JMK Pande Suteja Neka, Anak Agung Gde Rai, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn., Dr. Jean Couteau, Ketut Budiana (Padangtegal), Ketut Sadia (Batuan) dan Wayan Diana (Batuan), I Gusti Nengah Nurata (Tabanan), Mikke Susanto (Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta), Putu Wirantawan (Pelukis). 

Dalam proses pemotretan dan pendataan koleksi seni, tim inventarisasi bekerja menggunakan Standard Operating Procedure (SOP) seperti; setiap petugas tiba di lokasi dan meninggalkan lokasi wajib mengisi formulir kehadiran, mengenakan nametag/tanda pengenal dan menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19 (mengenakan masker dan sarung tangan, menggunakan handsanitizer, menjaga jarak/kontak fisik), petugas masuk ke ruangan koleksi wajib didampingi oleh staf Gedung MMGB (min. 1 orang Penanggung Jawab Ruangan) dan/atau petugas UPTD. Taman Budaya (Bagian Dokumentasi dan Informasi), selama melakukan pendataam dan pendokumentasian koleksi petugas wajib memakai saraung tangan dan masker, tidak mengubah posisi karya untuk kebutuhan pengambilan – hanya staf Gedung MMGB yang bertanggung jawab di ruangan tersebut yang diperkenankan memindahkan koleksi atas izin dan sepengetahuan pimpinan Gedung MMGB/pihak UPTD. Taman Budaya dan perwakilan Yayasan Sahaja Sehati. 

Seluruh proses dan tahapan inventarisasi tersebut dilakukan selama tiga bulan (Juli-September 2020). Namun, mengingat keterbatasan waktu pelaksanaan, maka ke depan kiranya diperlukan tahapan inventarisasi lebih menyeluruh, bahkan patut diprogramkan sebuah upaya kajian lebih mendalam terhadap karya-karya maestro, baik ragam klasik, para pendahulu maupun modern/kontemporer guna dapat disandingkan dan dibandingkan pencapaiannya dengan seniman-seniman dari belahan dunia manapun. (*)


Bagikan:

RISET SENI

KOLABORASI

EKSPRESSO 88

HUBUNGI KAMI

Nama

Email *

Pesan *