kelompok studi seni, sastra dan penulisan kreatif

  • RISET

    Salah satu project riset seni rupa yang dilakukan Yayasan Sahaja Sehati pada tahun 2020, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, untuk koleksi karya seni yang terdapat di gedung Mahudara Mandara Giri Bhuana, Taman Budaya Provinsi Bali

  • RISET

    Proses Pendokumentasian dan Inventarisasi Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuana Taman Budaya Provinsi Bali

  • TIMBANG BUKU

    Membedah buku Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuvana bersama kurator Dr. Drs. I Ketut Muka P., M.Si., dan Warih Wisatsana dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani II tahun 2020

  • TIMBANG PANDANG

    Diskusi Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa buku Gajah Mina karya Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan yang diselenggarakan Yayasan Sahaja Sehati.

  • RISET

    Proses wawancara, pendokumentasian dan perekaman proses kreatif salah satu seniman maestro Bali Bapak I Gusti Ngurah Gede Pemecutan untuk seri dokumenter Werdhi Cipta sang Mumpuni

Tampilkan postingan dengan label Kisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2021

Timbang Pandang "Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa" Gajah Mina

Sahaja Sehati bekerja sama dengan Penerbit Bali Mangsi Foundation didukung Taman Budaya Provinsi Bali, Komaneka at Keramas Beach dan Gunawan Art Studio menyelenggarakan program Timbang Pandang "Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa", berlangsung pada Rabu, 17 Maret 2021. Ini merupakan project kesekian kali Sahaja Sehati dalam penyelenggaraan kegiatan seni budaya, seperti bedah buku, pembukaan pameran lukisan, pementasan musik, serta event lain yang bertaraf lokal, nasional, maupun internasional. 

Mempertemukan dua genre berbeda, puisi dan seni visual (lukisan, sketsa), penyair Dewa Putu Sahadewa dan perupa Made Gunawan melahirkan buku bersama bertajuk “Gajah Mina”. Buku ini menjadi titik berangkat perbincangan pada Timbang Pandang “Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa” yang berlangsung secara luring dan daring pada Rabu, 17 Maret 2021.

Dua narasumber, yakni Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan Dr. Jean Couteau membahas bagaimana upaya alih kreasi dan kolaborasi kedua kreator ini. Disinggung pula perihal kedalaman tematik, juga keunggulan karya, berikut kemungkinan penciptaannya di masa mendatang. Sebagai moderator yakni penyair Warih Wisatsana.

Timbang pandang disiarkan secara daring, diikuti 103 peserta berbagai latar melalui saluran Zoom. Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan mengemukakan proses kreatif penciptaan karya-karya yang terangkum dalam buku “Gajah Mina”. Buku terbitan Bali Mangsi Foundation (2021) ini memuat 27 puisi buah cipta Sahadewa dan 41 lukisan serta sketsa kreasi Made Gunawan.

Sahadewa dan Made Gunawan mengungkapkan awal mula ‘kolaborasi’ mereka dalam buku ini. “Karya-karya lukisan maupun sketsa Made Gunawan yang luar biasa memicu imajinasi saya untuk menulis puisi sebagaimana tertuang di dalam buku Gajah Mina, “ ujar Sahadewa.

Lebih lanjut, keduanya menyatakan bahwa proses kreatif ini berlangsung alami, terlebih karena ada komunikasi dan kontak personal yang intens antara Sahadewa dan Made Gunawan. Dalam proses memaknai pertemuan keduanya, mereka kemudian sepakat melibatkan Hartanto dari Penerbit Bali Mangsi Foundation untuk mewujudkannya dalam sebuah buku.

Sahadewa yang juga seorang dokter di Kupang, Nusa Tenggara Timur sesungguhnya telah menulis puisi sedari SMA. Puisi-puisinya disertakan dalam beberapa festival sastra dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Rusia bersama beberapa penyair Indonesia lainnya.   Gajah Mina adalah kumpulan puisi tunggal ketiganya setelah 69 Puisi di Rumah Dedari dan antologi puisi bilingual: Penulis Mantra.

Adapun acara juga berlangsung luring di Ruang Cinema, Lantai 1 Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali dengan hadirin terbatas serta tetap menerapkan protokol kesehatan. Secara khusus, Ibu Putri Koster menyampaikan pembuka kata melalui Zoom, mengawali agenda timbang pandang.

Ibu Putri Koster, yang juga sastrawan dan dramawan mumpuni, mengapresiasi program timbang pandang seraya mengungkapkan bahwa ini adalah pertanda bahwa para seniman masih terus berkarya meski masih dalam masa pandemi COVID-19. Agenda-agenda kesenian sesungguhnya bisa menjadi ‘imun’ untuk masyarakat Bali. Dengan berkesenian penuh semangat dan tetap mengolah elan kreatif, daya imun seseorang atau masyarakat bisa terjaga.

Menurutnya, para pegiat seni, termasuk sastra patut berbangga dan bersemangat karena Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster tidak hanya telah memberi wadah untuk pengembangan seni tradisi, namun juga seni modern dan kontemporer melalui penyelenggaraan program Festival Seni Bali Jani.

Oleh karena itu, Nyonya Putri Koster juga terus mengajak seniman-seniman Bali multitalenta untuk tak henti berkreasi  dan berkolaborasi antar bidang, serta terus bertumbuh menjadi sumber daya manusia yang kental dengan kekuatan seninya.

Proses Dialog Estetik

Seturut percepatan kemajuan teknologi informasi, kini lahir beragam seni multi-media, tidak sedikit buah alih kreasi dari satu bidang seni menjadi bentuk seni yang lain. Melalui alih kreasi dan kolaborasi terbuka kemungkinan apresiasi yang lebih luas dari publik yang lintas batas.

Kritikus sastra Nyoman Darma Putra mengungkapkan bahwa buku “Gajah Mina” yang karya Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan merupakan bentuk alih kreasi atau alih wahana yang menarik. Buku ini menyajikan karya alih wahana dari lukisan atau sketsa menjadi karya puisi. Sisi uniknya ialah ada sejumlah karya lukisan Made Gunawan yang sejatinya berangkat dari sastra, semisal Lubdaka, dan ini kemudian direspon kembali oleh Sahadewa menjadi puisi.

“Gajah Mina boleh dikata memperkaya proses alih wahana dalam tradisi seni. Saya ingin menyebutnya sebagai Pasatmian, ini merupakan sebuah proses dialog estetik antara puisi dan lukisan, “ jelas Darma Putra.

Pasatmian berasal dari kata Satmiya, yang dalam Bahasa Sansekerta berarti menjadi satu, dipersatukan, satu dalam hakikat, satu dalam sifat dasar, atau cocok dengan sifatnya. Pasatmian diartikan Darma Putra sebagai sebuah ‘hybrid’, bukan semata mencerminkan rwabhineda.

“Sebagai penyair, Sahadewa tidak berhenti pada karakteristik kasatmata atau penampakan saja, tetapi masuk ke dalam esensi, “ lanjut Darma Putra.

Sementara itu, budayawan asal Perancis yang lama menetap di Bali, Jean Couteau, mendalami lukisan-lukisan dan sketsa-sketsa Made Gunawan dalam buku Gajah Mina yang secara stilistik dan estetik telah mempribadi.

Adapun karya-karya Made Gunawan dalam buku tersebut sebelumnya telah pula dipamerkan di Galeri Komaneka at Keramas Beach, Gianyar, pada 23 Februari hingga 16 Maret 2021. Pameran ini serangkaian peluncuran buku “Gajah Mina” yang dilangsungkan 23 Februari 2021.

Made Gunawan telah aktif berpameran sejak tahun 1995, baik di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggal terpilihnya antara lain Pameran Sketsa dan Lukisan “Nungkalik” di rumah kos, pameran di Galery Hadiprana Jakarta (2002), “Perempuan” di Jenggala Keramik Jimbaran Bali, “Melody & Beauty From the Paradise Island di Galery Hadiprana Jakarta (2004), pameran di Montiq Galery Jakarta (2007), pameran “ Third Solo Exhibition” di Galery Hadiprana Jakarta (2008), pameran di Art Village Gallery Malaysia (2009), Tree Of Life di Hadiprana Gallery Jakarta (2014), “Garis Bali “ di AMBIENTE Jakarta (2015), Tree of Life at Hadiprana Gallery Jakarta (2018).(ID)


Bagikan:

Selasa, 10 November 2020

Mendikbud Apresiasi Pegiat Budaya yang Tetap Berkarya di Tengah Pandemi

Ubud, 9 November 2020 

Dalam kunjungan kerja ke Bali, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menemukan semangat para pegiat budaya masih melaksanakan aktivitas budaya di tengah pandemi Covid-19. 

Mendikbud Nadiem Makarim beserta istri Franka F. Makarim, didampingi Agung Yudi mengapresiasi karya lukisan yang dipamerkan di ARMA (Foto: Vanesa Martida/SAHAJA)

Didampingi Franka Makarim dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidik (LPMP) Provinsi Bali, I Made Alit Dwitama; Mendikbud meninjau pelaksanaan pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) Lingkungan Puri Damai. Setelah itu kunjungan berlanjut ke Agung Rai Museum of Art dan Museum Arkeologi Gedong Arca. 

Mendikbud Nadiem Makarim beserta istri Franka F. Makarim, Agung Rai dan Agung Yudi (Foto: Vanesa Martida/SAHAJA)

Saat kunjungan di Museum ARMA, Mendikbud bersama Franka Makarim berkeliling mengapresiasi karya-karya lukisan maestro Indonesia dan Bali, juga menyaksikan proses kreatif perupa Bali yang tengah melukis. Selain itu juga menyempatkan diri mengapresiasi pameran Bali Megarupa 2020 (serangkaian Festival Bali Jani 2020) yang tengah berlangsung di Museum ARMA.

“Saya melihat dedikasi masyarakat untuk menjaga kelestarian ini, bagi saya sangat luar biasa. Walaupun di tengah krisis, mereka masih melaksanakan aktivitas seninya, masih menjaga fasilitas, dan terus menjaga aset budaya Indonesia,” ujar Mendikbud, pada Senin (9/11/2020).

Mendikbud Nadiem Makarim beserta istri Franka F. Makarim, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan Adnyana (Foto: Vanesa Martida/SAHAJA)
Agung Rai selaku founder ARMA Museum juga memberikan Buku “Saraswati in Bali: A Temple, A Museum, and a Mask” (2014) karya Ron Jenkins & Ronald Scott Jenkins sebagai cinderamata.

Sahaja Sehati turut hadir dalam kunjungan Mendikbud di Museum ARMA, Ubud dan mendokumentasikan kegiatan melalui foto-foto terpilih. 

Menutup kunjungannya, Mendikbud menyambangi rumah dinas Gubernur Bali untuk bersilaturahmi dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster.


Lihat Sumber Artikel.


Bagikan:

Minggu, 30 November 2014

Pemutaran Film Dokumenter Maestro Pematung I Ketut Muja

Sedini tahun 2010, Sahaja Sehati--yang sebelumnya bernama Komunitas Sahaja--telah menjalin kerja sama rutin dengan lembaga kebudayaan Bentara Budaya Bali dan Udayana Science Club dalam penyelenggaraan pemutaran film berkala 'Sinema Bentara'. Kini, pada salah satu seri Sinema Bentara yang berlangsung 22-23 November 2014, dihadirkan dokumenter Memoar Para Maestro. 

Film dokumenter yang ditayangkan yakni tentang sosok pematung maestro Ketut Muja--kelahiran Singapadu, 31 Desember 1944 dan berpulang pada 20 September 2014. Pemutaran dimaknai pula dialog tentang sosok dan pokok I Ketut Muja bersama Made Supena dan Wayan Seriyoga Parta. 

Ketut Muja dikenal sebagai seniman yang menekuni seni topeng tradisi dan kemudian menciptakan karya-karya yang otentik dan modern, mengekspresikan sikap kepeduliannya terhadap kekinian dengan pilihan bentuk realis naturalistik. Sinema obituari ini akan mengetengahkan film dokumenter terkait proses cipta I Ketut Muja yang dirangkaian pula dengan diskusi, membahas capaian komposisinya dalam seni rupa Bali atau Indonesia.

(Karya Ketut Muja)

Ia belajar kepada seniman-seniman topeng mumpuni seperti I Wayan Tanggung, I Made Rondin dan I Wayan Komplit. Berangkat dari pemahaman atas seni tradisi, seniman I Ketut Muja kemudian melahirkan karya-karya patung masterpiece-nya dalam wujud realis naturalistik.

Sekitar tahun 1970-an seniman I Ketut Muja menciptakan karya-karyanya yang bertema Ramayana dan Mahabarata dengan bahan dari akar-akar kayu. Yang paling monumental adalah karya patung “Hanoman”-nya, merupakan hasil kreativitas dari gabungan topeng tradisi, gaya patung Realis-Naturalistik dan Dekoratif dengan pahatan-pahatan yang maha rumit dan sangat detail. Salah satu karyanya dapat kita saksikan pada koleksi yang tersimpan di Taman Budaya Bali yang berjudul “Hanoman Pasah”.

Kemampuannya membentuk figur-figur pewayangan pada bahan dari akar-akar kayu, menjadi inspirasi bagi pematung-pematung muda, di antaranya; I Nyoman Darwa, I Wayan Suada, I Nyoman Kendra, I Wayan Warsa, I Nyoman Rubig, I Made Jasah, I Wayan Budarma, I Wayan Widia, I Wayan Jagra, I Wayan Badra adalah murid-murid tempaan Muja berikutnya. Selain tersimpan di Daetz Museum Jerman, karya-karya I Ketut Muja telah dikoleksi oleh Mosa Museum Belgia, Park Paradisio Belgia, Latta Mahosadi Museum Denpasar, Museum Oei Hong Djien, Busan Indonesia Centre Korea dan Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII Jakarta, serta dikoleksi pula oleh perorangan diantaranya dikoleksi oleh Mr. Henry Kissinger (mantan Menlu Amerika), Ferdinand Marcos, Tengku Abdul Rachman, Ida Bagus Mantra.

Di samping dokumenter tentang Ketut Muja, ditayangkan pula film-film terpilih dari Jerman didukung Goethe Institut Jakarta. Yakni: Gerhard Richter (2011, 98 menit, sutradara Corinna Belz), Der Bilderdenker: Der Maler Gottfried Brockmann (1986, 30 menit, sutradara Per Schnell), Adolph von Menzel-Chronist mit Stift und Pinsel, Irmgard von zur Mühlen (1981, 30 menit, sutradara Irmgard von zur Mühlen), Franz Marc, H. J. Hossfeld (1980, 28 menit, sutradara: H. J. Hossfeld), Netzflickerinnen, Die – Max Liebermann (1985, 10 menit, sutradara: Reiner E. Moritz).
Bagikan:

Senin, 06 Desember 2010

Dialog Sastra dan Peluncuran Novel Karya Martin Jankowski: RUNTUHNYA TEMBOK BERLIN DI BALI


Suasana musim gugur Kota Leipzig, Jerman, menjelang jatuhnya Tembok Berlin di tahun 1989, akan dihadirkan di Bali melalui novel terkini Martin Jankowski yang akan diluncurkan pada 10 Desember 2010 mendatang.

Lewat acara diskusi yang mengambil tajuk serupa dengan judul karyanya, ‘Rabet, Runtuhnya Jerman Timur’, Martin yang juga penyair kelahiran Greifswald, kawasan Laut Baltik, Eropa, ini akan tampil memperbincangkan perkembangan kesusastraan Jerman dan Indonesia sekaligus peran sastra dalam pendidikan masyarakat, di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, dimulai pukul 08.30 WITA. Tak hanya itu, penulis yang sebelumnya telah menerbitkan antologi puisi “Detik-Detik Indonesia” yang sebagian besar memotret kehidupan kultur serta sosial negeri Indonesia dan juga Pulau Bali ini, akan mendiskusikan kaitan antara sastra dan sejarah sebuah bangsa sekaligus refleksinya terhadap kekinian di Bentara Budaya Bali pada acara Sandyakala Sastra seri ke 6, pukul 18.00 WITA, masih pada hari yang sama.

Novel ini berkisah tentang detik-detik menjelang peristiwa runtuhnya Tembok Berlin, sebagai penanda jatuhnya Negara Jerman Timur yang berhaluan ideologi sosialis. Lewat bukunya ini, Martin Jankowski, yang juga terlibat dalam peristiwa demonstasi besar-besaran menentang otokrasi Pemerintah Jerman Timur ini, tidak semata menuturkan kisah-kisah pergulatan politik yang dialami penulisnya, namun juga berupaya menghadirkan kenyataan sejarah secara lebih manusiawi dalam bahasa estetika sastrawi nan puitik.

“Tentulah, diskusi terkait novel karya Martin Jankowski beserta refleksinya terhadap sejarah serta kultur kesusastraan salah satu bangsa Eropa ini dapat menjadi materi pembelajaran yang penting, tidak hanya bagi peserta didik di Fakultas ini, namun juga generasi muda Bali secara keseluruhan. Saya kira, diskusi-diskusi seperti ini tidak semata memperkenalkan khazanah kebudayaan luar Nusantara, namun sekaligus juga dapat menjadi sebentuk studi perbandingan yang strategis demi perkembangan kehidupan sastra di Bali, dan juga Indonesia,” ujar Pembantu Dekan III Fakultas Sastra Universitas Udayana, Drs. I Wayan Sama, M.Hum.

Senada dengan Wayan Sama, Koordinator Acara di Bali, Ni Ketut Sudiani, juga menyampaikan bahwa diskusi sastra seperti ini hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, dengan menghadirkan penulis-penulis mumpuni dan mengangkat tema-tema lebih beragam, yang pelaksanaannya didukung dari berbagai pihak. “Program Dialog dan Peluncuran Buku ini sendiri telah digelar di berbagai kota di Indonesia, seperti Banda Aceh, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Papua,” ujar Ni Ketut Sudiani seraya menambahkan bahwa kegiatan di Bali ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Sahaja, Fakultas Sastra Universitas Udayana serta Bentara Budaya Bali, sebuah ruang publik kebudayaan bagian dari Keluarga Besar Kompas-Gramedia.

Di samping dikenal sebagai penulis dan penyair, yang semasa tahun 1980-an peredaran karya-karyanya dilarang oleh Stasi (Polisi Rahasia Jerman Timur) Martin Jankowski adalah juga penulis lirik lagu untuk gerakan bawah tanah kaum opisisi Leipzig. Setelah runtuhnya kuasa pemerintah dan jatuhnya Tembok Berlin, Martin mulai aktif kembali menerbitkan tulisan-tulisannya, baik berupa esai, cerpen, novel dan karya-karya non fiksi.

Diskusi sastra mendatang ini tidak hanya diperkaya oleh kehadiran penulisnya untuk berbagi pengalaman kreatif, namun juga dimaknai oleh pementasan apresiasi sastra dari penyair dan penggiat sastra di Bali. “Bolehlah dikata, dialog ini bukan hanya dapat dipandang sebagai sebuah refleksi terhadap sastra Jerman maupun Indonesia, melainkan juga upaya untuk menghargai sejarah masa lampau serta memaknai kekinian dan masa depan kita,” ujar Wayan Sama.

Bagikan:

Kamis, 11 November 2010

Posko Muda Bali Tanggap Bencana : Sebuah Uluran Keprihatinan

Kita bersama tengah menghadapi cobaan yang berat. Bencana alam datang beruntun, mulai dari banjir bandang Wasior, disusul gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Mentawai, dan beberapa waktu lalu erupsi Gunung Merapi menelan korban yang tak sedikit di Sleman, Jogjakarta. Sudah hampir sebulan saudara-saudara kita menjalani kehidupan di pengungsian, tak sedikit yang kehilangan materi dan sanak saudara yang dicintai.

Dengan semangat dasar hendak membantu meringankan beban para korban serta sebagai bentuk kepedulian dan mempererat tali persaudaraan, generasi muda Bali membuka “Posko Muda Bali Tanggap Bencana”. Sebagai generasi muda, atas kecintaan pada kemanusiaan, kita memiliki tanggungjawab moral untuk membantu dan berbagi terhadap sesama, termasuk sigap dan tanggap mengambil tindakan dalam menghadapi bencana. Uluran tangan para generasi muda tentu sangat berharga bagi saudara-saudara kita di seberang sana.

Sampai saat ini, para pengungsi masih membutuhkan uluran sumbangan baik berupa keperluan sandang seperti pakaian (termasuk pakaian dalam), pembalut wanita, popok bayi, selimut, pun juga susu bayi dan obat-obatan. Uluran keprihatinan juga bisa berupa donasi dana. Silakan salurkan sumbangan Anda melalui “Posko Muda Bali Tanggap Bencana” bertempat di Museum Sidik Jari, Jalan Hayam Wuruk 175 Denpasar atau ke Rekening Mandiri 1450006565820 atas nama Ni Made Purnamasari. Di samping itu, sebagai wujud solidaritas, sejumlah anak-anak muda akan menggelar doa bersama dan persembahan seni untuk amal setiap 4 (empat) hari sekali di Museum Sidik Jari. Kontak Person: 081805470801 dan 0818348006.

Bagikan:

Rabu, 19 Agustus 2009

Sahaja Menyelenggara Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen "Lobakan"

Sebuah antologi cerpen bertajuk ‘Lobakan’ akan diluncurkan pada Minggu, 23 Agustus 2009 mendatang, pukul 18.30 WITA, di Wantilan Taman Budaya (Art Centre) Provinsi Bali, Jalan Nusa Indah Denpasar. Kegiatan yang terselenggara berkat kerja sama Lembaga Kreativitas Kemanusiaan (LKK) dan Komunitas Sahaja ini juga didukung oleh The Ford Foundation Jakarta.

”Karya-karya dalam antologi cerpen Lobakan berangkat dari peristiwa tragedi kemanusiaan yang terjadi di Bali pada periode 1965/66. Setiap penulis berupaya merefleksikan gagasan dan boleh jadi pengalaman pribadinya ke dalam bentuk karya-karya cerpen, dengan sudut pandang dan gaya penceritaan yang beragam,” tutur Putu Oka Sukanta, salah satu penulis antologi cerpen ’Lobakan’.

Koordinator acara, Ni Putu Destriani Devi dari Komunitas Sahaja menyatakan, acara bedah buku nantinya akan diselingi dengan apresiasi karya dan pemutaran film. ”Selain berdiskusi mengenai proses kreatif dan isi buku secara menyeluruh, acara juga diselingi dengan pembacaan cerpen, musikalisasi puisi serta pemutaran film dokumenter karya Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan (LKK),” katanya.

Dalam pengantarnya yang berjudul ’Lobakan sebagai Pelita Jalan Sejarah’, I Gusti Agung Ayu Ratih menyebutkan kisah-kisah dalam buku ’Lobakan’ sedikit banyak menggambarkan bagaimana masa lalu yang tak terbicarakan sudah mengepung kehidupan bukan saja korban, tetapi juga pelaku dan masyarakat pada umumnya. Direktur Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) ini pun memaparkan bahwa hanya karya sastra dan senilah yang memiliki kekayaan perangkat pengungkapan untuk menjembatani antara pengalaman-pengalaman individual yang paling personal dengan idealisme kemanusiaan yang universal.

Buku antologi cerpen ’Lobakan’ memuat 22 karya yang ditulis oleh 14 sastrawan yang berasal dari dalam dan luar Bali. Penulis-penulis di antaranya, Dyah Merta, Fati Soewandi, Gde Aryantha Soethama, Happy Salma, Kadek Sonia Piscayanti, Martin Aleida, May Swan, Ni Komang Ariani, Putu Fajar Arcana, Putu Oka Sukanta, Putu Satria Kusuma, Sunaryono Basuki KS, Soeprijadi Tomodihardjo, dan T. Iskandar A.S.

Bagikan:

Selasa, 14 Juli 2009

Dialog Budaya dan Peluncuran Buku ‘Hans Magnus Enzensberger’

Bekerjasama dengan Goethe Institut Jakarta, pertengahan Agustus 2009, Komunitas Sahaja akan menyelenggarakan sebuah acara Dialog Budaya dan Peluncuran Buku karya Hans Magnus Enzensberger, salah satu penyair mumpuni Jerman. Menampilkan dua pembicara yang juga sekaligus penerjemah karya Enzensberger dari bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia, yakni Berthold Damshauser (Jerman) dan Agus R. Sarjono (Indonesia).

Buku Kumpulan Puisi karya Hans Magnus Enzensberger ini merupakan upaya penerbitan Seri Puisi Jerman yang kelima. Acara akan dilaksanakan pada:

Sabtu, 15 Agustus 2009

Pukul 19.00 – 21.00 WITA

di Studio Ramayana, Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar, Jalan Hayam Wuruk 70 Denpasar, Bali

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Rastiti (087860947414) atau via email ke komunitas.sahaja@yahoo.com

Bagikan:

RISET SENI

KOLABORASI

EKSPRESSO 88

HUBUNGI KAMI

Nama

Email *

Pesan *