kelompok studi seni, sastra dan penulisan kreatif

Minggu, 30 November 2014

Pemutaran Film Dokumenter Maestro Pematung I Ketut Muja

Sedini tahun 2010, Sahaja Sehati--yang sebelumnya bernama Komunitas Sahaja--telah menjalin kerja sama rutin dengan lembaga kebudayaan Bentara Budaya Bali dan Udayana Science Club dalam penyelenggaraan pemutaran film berkala 'Sinema Bentara'. Kini, pada salah satu seri Sinema Bentara yang berlangsung 22-23 November 2014, dihadirkan dokumenter Memoar Para Maestro. 

Film dokumenter yang ditayangkan yakni tentang sosok pematung maestro Ketut Muja--kelahiran Singapadu, 31 Desember 1944 dan berpulang pada 20 September 2014. Pemutaran dimaknai pula dialog tentang sosok dan pokok I Ketut Muja bersama Made Supena dan Wayan Seriyoga Parta. 

Ketut Muja dikenal sebagai seniman yang menekuni seni topeng tradisi dan kemudian menciptakan karya-karya yang otentik dan modern, mengekspresikan sikap kepeduliannya terhadap kekinian dengan pilihan bentuk realis naturalistik. Sinema obituari ini akan mengetengahkan film dokumenter terkait proses cipta I Ketut Muja yang dirangkaian pula dengan diskusi, membahas capaian komposisinya dalam seni rupa Bali atau Indonesia.

(Karya Ketut Muja)

Ia belajar kepada seniman-seniman topeng mumpuni seperti I Wayan Tanggung, I Made Rondin dan I Wayan Komplit. Berangkat dari pemahaman atas seni tradisi, seniman I Ketut Muja kemudian melahirkan karya-karya patung masterpiece-nya dalam wujud realis naturalistik.

Sekitar tahun 1970-an seniman I Ketut Muja menciptakan karya-karyanya yang bertema Ramayana dan Mahabarata dengan bahan dari akar-akar kayu. Yang paling monumental adalah karya patung “Hanoman”-nya, merupakan hasil kreativitas dari gabungan topeng tradisi, gaya patung Realis-Naturalistik dan Dekoratif dengan pahatan-pahatan yang maha rumit dan sangat detail. Salah satu karyanya dapat kita saksikan pada koleksi yang tersimpan di Taman Budaya Bali yang berjudul “Hanoman Pasah”.

Kemampuannya membentuk figur-figur pewayangan pada bahan dari akar-akar kayu, menjadi inspirasi bagi pematung-pematung muda, di antaranya; I Nyoman Darwa, I Wayan Suada, I Nyoman Kendra, I Wayan Warsa, I Nyoman Rubig, I Made Jasah, I Wayan Budarma, I Wayan Widia, I Wayan Jagra, I Wayan Badra adalah murid-murid tempaan Muja berikutnya. Selain tersimpan di Daetz Museum Jerman, karya-karya I Ketut Muja telah dikoleksi oleh Mosa Museum Belgia, Park Paradisio Belgia, Latta Mahosadi Museum Denpasar, Museum Oei Hong Djien, Busan Indonesia Centre Korea dan Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII Jakarta, serta dikoleksi pula oleh perorangan diantaranya dikoleksi oleh Mr. Henry Kissinger (mantan Menlu Amerika), Ferdinand Marcos, Tengku Abdul Rachman, Ida Bagus Mantra.

Di samping dokumenter tentang Ketut Muja, ditayangkan pula film-film terpilih dari Jerman didukung Goethe Institut Jakarta. Yakni: Gerhard Richter (2011, 98 menit, sutradara Corinna Belz), Der Bilderdenker: Der Maler Gottfried Brockmann (1986, 30 menit, sutradara Per Schnell), Adolph von Menzel-Chronist mit Stift und Pinsel, Irmgard von zur Mühlen (1981, 30 menit, sutradara Irmgard von zur Mühlen), Franz Marc, H. J. Hossfeld (1980, 28 menit, sutradara: H. J. Hossfeld), Netzflickerinnen, Die – Max Liebermann (1985, 10 menit, sutradara: Reiner E. Moritz).
Bagikan:

RISET SENI

KOLABORASI

EKSPRESSO 88

HUBUNGI KAMI

Nama

Email *

Pesan *