kelompok studi seni, sastra dan penulisan kreatif


  • RISET

    Salah satu project riset seni rupa yang dilakukan Yayasan Sahaja Sehati pada tahun 2020, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, untuk koleksi karya seni yang terdapat di gedung Mahudara Mandara Giri Bhuana, Taman Budaya Provinsi Bali

  • RISET

    Proses Pendokumentasian dan Inventarisasi Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuana Taman Budaya Provinsi Bali

  • TIMBANG BUKU

    Membedah buku Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuvana bersama kurator Dr. Drs. I Ketut Muka P., M.Si., dan Warih Wisatsana dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani II tahun 2020

  • TIMBANG PANDANG

    Diskusi Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa buku Gajah Mina karya Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan yang diselenggarakan Yayasan Sahaja Sehati.

  • RISET

    Proses wawancara, pendokumentasian dan perekaman proses kreatif salah satu seniman maestro Bali Bapak I Gusti Ngurah Gede Pemecutan untuk seri dokumenter Werdhi Cipta sang Mumpuni

Kamis, 18 Maret 2021

Timbang Pandang "Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa" Gajah Mina

Sahaja Sehati bekerja sama dengan Penerbit Bali Mangsi Foundation didukung Taman Budaya Provinsi Bali, Komaneka at Keramas Beach dan Gunawan Art Studio menyelenggarakan program Timbang Pandang "Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa", berlangsung pada Rabu, 17 Maret 2021. Ini merupakan project kesekian kali Sahaja Sehati dalam penyelenggaraan kegiatan seni budaya, seperti bedah buku, pembukaan pameran lukisan, pementasan musik, serta event lain yang bertaraf lokal, nasional, maupun internasional. 

Mempertemukan dua genre berbeda, puisi dan seni visual (lukisan, sketsa), penyair Dewa Putu Sahadewa dan perupa Made Gunawan melahirkan buku bersama bertajuk “Gajah Mina”. Buku ini menjadi titik berangkat perbincangan pada Timbang Pandang “Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa” yang berlangsung secara luring dan daring pada Rabu, 17 Maret 2021.

Dua narasumber, yakni Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan Dr. Jean Couteau membahas bagaimana upaya alih kreasi dan kolaborasi kedua kreator ini. Disinggung pula perihal kedalaman tematik, juga keunggulan karya, berikut kemungkinan penciptaannya di masa mendatang. Sebagai moderator yakni penyair Warih Wisatsana.

Timbang pandang disiarkan secara daring, diikuti 103 peserta berbagai latar melalui saluran Zoom. Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan mengemukakan proses kreatif penciptaan karya-karya yang terangkum dalam buku “Gajah Mina”. Buku terbitan Bali Mangsi Foundation (2021) ini memuat 27 puisi buah cipta Sahadewa dan 41 lukisan serta sketsa kreasi Made Gunawan.

Sahadewa dan Made Gunawan mengungkapkan awal mula ‘kolaborasi’ mereka dalam buku ini. “Karya-karya lukisan maupun sketsa Made Gunawan yang luar biasa memicu imajinasi saya untuk menulis puisi sebagaimana tertuang di dalam buku Gajah Mina, “ ujar Sahadewa.

Lebih lanjut, keduanya menyatakan bahwa proses kreatif ini berlangsung alami, terlebih karena ada komunikasi dan kontak personal yang intens antara Sahadewa dan Made Gunawan. Dalam proses memaknai pertemuan keduanya, mereka kemudian sepakat melibatkan Hartanto dari Penerbit Bali Mangsi Foundation untuk mewujudkannya dalam sebuah buku.

Sahadewa yang juga seorang dokter di Kupang, Nusa Tenggara Timur sesungguhnya telah menulis puisi sedari SMA. Puisi-puisinya disertakan dalam beberapa festival sastra dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Rusia bersama beberapa penyair Indonesia lainnya.   Gajah Mina adalah kumpulan puisi tunggal ketiganya setelah 69 Puisi di Rumah Dedari dan antologi puisi bilingual: Penulis Mantra.

Adapun acara juga berlangsung luring di Ruang Cinema, Lantai 1 Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali dengan hadirin terbatas serta tetap menerapkan protokol kesehatan. Secara khusus, Ibu Putri Koster menyampaikan pembuka kata melalui Zoom, mengawali agenda timbang pandang.

Ibu Putri Koster, yang juga sastrawan dan dramawan mumpuni, mengapresiasi program timbang pandang seraya mengungkapkan bahwa ini adalah pertanda bahwa para seniman masih terus berkarya meski masih dalam masa pandemi COVID-19. Agenda-agenda kesenian sesungguhnya bisa menjadi ‘imun’ untuk masyarakat Bali. Dengan berkesenian penuh semangat dan tetap mengolah elan kreatif, daya imun seseorang atau masyarakat bisa terjaga.

Menurutnya, para pegiat seni, termasuk sastra patut berbangga dan bersemangat karena Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster tidak hanya telah memberi wadah untuk pengembangan seni tradisi, namun juga seni modern dan kontemporer melalui penyelenggaraan program Festival Seni Bali Jani.

Oleh karena itu, Nyonya Putri Koster juga terus mengajak seniman-seniman Bali multitalenta untuk tak henti berkreasi  dan berkolaborasi antar bidang, serta terus bertumbuh menjadi sumber daya manusia yang kental dengan kekuatan seninya.

Proses Dialog Estetik

Seturut percepatan kemajuan teknologi informasi, kini lahir beragam seni multi-media, tidak sedikit buah alih kreasi dari satu bidang seni menjadi bentuk seni yang lain. Melalui alih kreasi dan kolaborasi terbuka kemungkinan apresiasi yang lebih luas dari publik yang lintas batas.

Kritikus sastra Nyoman Darma Putra mengungkapkan bahwa buku “Gajah Mina” yang karya Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan merupakan bentuk alih kreasi atau alih wahana yang menarik. Buku ini menyajikan karya alih wahana dari lukisan atau sketsa menjadi karya puisi. Sisi uniknya ialah ada sejumlah karya lukisan Made Gunawan yang sejatinya berangkat dari sastra, semisal Lubdaka, dan ini kemudian direspon kembali oleh Sahadewa menjadi puisi.

“Gajah Mina boleh dikata memperkaya proses alih wahana dalam tradisi seni. Saya ingin menyebutnya sebagai Pasatmian, ini merupakan sebuah proses dialog estetik antara puisi dan lukisan, “ jelas Darma Putra.

Pasatmian berasal dari kata Satmiya, yang dalam Bahasa Sansekerta berarti menjadi satu, dipersatukan, satu dalam hakikat, satu dalam sifat dasar, atau cocok dengan sifatnya. Pasatmian diartikan Darma Putra sebagai sebuah ‘hybrid’, bukan semata mencerminkan rwabhineda.

“Sebagai penyair, Sahadewa tidak berhenti pada karakteristik kasatmata atau penampakan saja, tetapi masuk ke dalam esensi, “ lanjut Darma Putra.

Sementara itu, budayawan asal Perancis yang lama menetap di Bali, Jean Couteau, mendalami lukisan-lukisan dan sketsa-sketsa Made Gunawan dalam buku Gajah Mina yang secara stilistik dan estetik telah mempribadi.

Adapun karya-karya Made Gunawan dalam buku tersebut sebelumnya telah pula dipamerkan di Galeri Komaneka at Keramas Beach, Gianyar, pada 23 Februari hingga 16 Maret 2021. Pameran ini serangkaian peluncuran buku “Gajah Mina” yang dilangsungkan 23 Februari 2021.

Made Gunawan telah aktif berpameran sejak tahun 1995, baik di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggal terpilihnya antara lain Pameran Sketsa dan Lukisan “Nungkalik” di rumah kos, pameran di Galery Hadiprana Jakarta (2002), “Perempuan” di Jenggala Keramik Jimbaran Bali, “Melody & Beauty From the Paradise Island di Galery Hadiprana Jakarta (2004), pameran di Montiq Galery Jakarta (2007), pameran “ Third Solo Exhibition” di Galery Hadiprana Jakarta (2008), pameran di Art Village Gallery Malaysia (2009), Tree Of Life di Hadiprana Gallery Jakarta (2014), “Garis Bali “ di AMBIENTE Jakarta (2015), Tree of Life at Hadiprana Gallery Jakarta (2018).(ID)


Bagikan:

Sabtu, 19 Desember 2020

Dokumenter 5 Maestro: Werdhi Cipta Sang Mumpuni

Pembangunan Taman Budaya Provinsi Bali sebagaimana mula awal digagas oleh alm. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1969, dirancang hadir sebagai pusat tumbuhnya kesenian dan kebudayaan di Bali. Kehadirannya Taman Budaya juga menjadi bagian dari upaya pelestarian dan penggalian nilai-nilai serta potensi warisan budaya yang hidup di masyarakat. Salah satu sarana atau fasilitas untuk mewadahi nilai-nilai serta potensi warisan budaya yakni dengan didirikannya Gedung Pameran Utama Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB), diresmikan tahun 1973 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kala itu, Mashuri, S.H. 

Taman Budaya Provinsi Bali merupakan ruang beragam peristiwa budaya penting tingkat lokal, nasional, dan internasional. Tersimpan pula berbagai koleksi karya seni karya maestro pendahulu yang berharga. Capaian para maestro, tak lepas dari kehadiran Taman Budaya Provinsi Bali sebagai rumah kreasi, ruang ekspresi dan apresiasi, serta laboratorium penciptaan seni yang tak pernah surut oleh waktu.

Film Dokumenter 5 Maestro : Werdhi Cipta Sang Mumpuni (2020) menghadirkan proses kreatif dan kisah latar belakang penciptaan dari 5 tokoh mumpuni, di antaranya : Ni Made Rusni (Seni Pertunjukan Tradisi Arja), I Wayan Jebeg (Karawitan), Umbu Landu Paranggi (Sastra), Made Wianta (Seni Rupa), dan I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (Seni Rupa). 

Film dokumenter ini diproduksi oleh UPTD. Taman Budaya Provinsi Bali, didukung oleh Rumah Penggak Men Mersi bekerja sama dengan Sahaja Sehati. 

Taman Budaya Provinsi Bali menyimpan warisan budaya luhur dalam bentuk tangible atau intangible yang tak ternilai dari para maestro. Hal tersebut dapat dikelola di masa mendatang sebagai sumber riset atau kajian bagi peneliti Indonesia maupun mancanegara. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemikiran dan menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa, baik itu tataran filosofis maupun tataran praktis.

Menimbang visi luhur tersebut, patut kita semua turut bersemangat dalam kreativitas seni serta menjaga dan merawat  keberadaan Taman Budaya Provinsi Bali.

Ni Made Rusni

Siapa yang tidak mengenalnya, Ia memang maestro dramatari arja. Bukan hanya piawai mengolah tubuhnya, menghadirkan gerak yang lincah dan memikat, serasi se-iring gamelan. Namun juga mumpuni merangkai kata yang spontan dan segar, tak pelak penonton pun menyambutnya meriah.

Penampilannya selalu ditunggu-tunggu di Pesta Kesenian Bali yang diadakan di Taman Budaya Provinsi Bali. Itulah sosok Ni Made Rusni, lahir tahun 1952 di Singapadu, Gianyar. Kini menetap di Banjar Puseh Kangin, Sanur, Denpasar.

Kesehariannya tidak bisa lepas dari kesenian arja yang dilakoninya sejak usia delapan tahun. Membawakan tembang lagu Bali yang digunakan dalam pementasan seni Arja memang kesenangannya sejak kecil. 

Tahun 1960, ia mulai belajar tari arja di Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar. Setelah terampil menguasai gerak dan tari arja, kemudian bergabung dengan Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar dan mendapat peran sebagai Desak Rai dalam pementasan berjudul “Kelimun Hilang Serepet Teke”.

Istri dari I Made Kunawijaya, dan Ibu dari tiga putra Made Suarya, I Nyoman Sujena, dan I Ketut Arsana ini tergabung di dalam sekaa Wija Ratnadi RRI Denpasar mengemban misi kesenian arja. Bersama sosok lainnya, seperti: Ni Ketut Ribu, Monjong, Made Monog, Ruju, Candri, Liges, dan Cok Rai Partini, ia adalah tokoh Dramatari serta penembang lagu dalam pementasan drama tari arja.

Sejak pementasan arja bertajuk “Godogan” perannya sebagai Desak Rai berubah menjadi Galuh Liku hingga sekarang. Siaran drama tari arja RRI Denpasar kala itu, setiap Minggu pukul 10.00 – 12.00 WITA, menjadi favorit masyarakat Bali.

Ni Made Rusni sempat pentas keliling Pulau Dewata serta tampil di Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi. Selain itu, ia senantiasa bersenang hati melatih generasi muda yang tertarik mempelajari kesenian Bali, khususnya tari arja. Ia menerima anugerah Seni Dharma Kusuma, penghargaan tinggi dari Pemerintah Provinsi Bali pada 14 Agustus 2007. 

I Wayan Djebeg

Sukawati memang terkenal melahirkan seniman-seniman sohor, namun bila menyebut maestro Tabuh, seketika orang akan teringat I Wayan Jebeg. Dilahirkan di Banjar Batur, Batubulan, Sukawati, Gianyar, tahun 1932, sedini kanak-kanak telah menekuni seni, terutama gamelan. Walau lahir dari keluarga kurang berada, ia memiliki semangat tinggi untuk belajar. Ketika ia duduk di kelas 3 SR (Sekolah Rakyat) tahun 1942, Jebeg tertarik menjadi penari gandrung. Sosoknya yang tinggi langsing dengan mudah memikat penonton, terlebih lagi gerak dan liuk tubuhnya yang serasi mengikuti irama gamelan. 

Semangatnya yang tak kenal putus asa untuk menekuni kesenian, dan dilakukannya secara otodidak, akhirnya mengantar Jebeg meyakini bahwa panggilan hidupnya adalah menjadi seorang seniman, yang terbukti mumpuni. Ia menabuh bersama sekaa gong banjarnya, tampil dari desa ke desa. Berkat keahliannya menguasai berbagai jenis gamelan, pada tahun 1962 ia mendapatkan pekerjaan di AJENDAM KODAM Udayana. Selama 27 tahun Jebeg berkeliling Indonesia bermain gamelan menghibur masyarakat, terlebih warga Angkatan Darat yang pada umumnya mencintai kesenian Bali. Ia juga pernah tampil di Amerika, Jerman, Italia, India serta Jepang.

Kakek 15 kompi dan 10 cucu ini dikenal sebagai pencipta tabuh klasik Lelambatan. Karya-karya Jebeg selalu memiliki ciri dan karakter tersendiri. Karena kepiawaiannya Jebeg didapuk sebagai guru luar biasa di Kokar selama 10 tahun (1989-1998) serta dosen luar biasa ASTI Denpasar yang kemudian menjadi STSI dan kini ISI Denpasar.

Taman Budaya Denpasar menjadi saksi kemaestroannya sebagai penabuh. Setiap Pesta Kesenian Bali, ia hadir bersama sekaa gongnya dan selalu mendapat sambutan hangat dari para penonton. Jebeg, memang sejak tahun 1982, ditunjuk sebagai penabuh Gong Kebyar duta Kabupaten Gianyar. Ia mahir memainkan Terompong dan Kendang, dan sebagai seniman muda, ia bangga bisa tampil pada ajang tahunan bergengsi tersebut. Apalagi sejak tahun 1985 ia didapuk sebagai pembina sekaa Gong Kebyar Kabupaten Gianyar. 

Tahun 1985, Ia sempat meraih Piagam Penghargaan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI dari Menteri Sudharmono SH; Piagam Wijaya Kusuma tahun 1986; Piagam Dharma Kusuma Madia Tahun 1987; Piagam Pesta Seni tahun 1991. 

Made Wianta

Maestro Made Wianta lahir 20 Desember 1949 di Apuan, Tabanan, Bali. Tahun 1967-1969, ia belajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia di Denpasar. Ia melanjutkan pendidikan seninya pada tahun 1975-1977 di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Selama 1975-1977, Ia menetap di Brussel, Belgia untuk menambah pengalaman di bidang seni.

Karyanya telah banyak dipamerkan, baik pameran bersama maupun tunggal. Pertama kali pameran bersama tahun 1968 di Museum Bali. Di tahun 1976, Wianta pertama kali mengadakan pameran tunggal di Cultural Jacques Frank, di Brussel, Belgia. Selanjutnya karyanya tercatat pernah dipamerkan di Jepang, Singapura, Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, Amerika, Italia, Guam, Uni Emirat Arab, dan berbagai negara lainnya.

Made Wianta telah menerima berbagai penghargaan. Diantaranya adalah “Honorary Professor” dari Academico Internationale Greci-Marino di Italia (1996); “The Most Admired Man of Decade” dari American Biographical Institute di Amerika (1997); “Dharma Kusuma” dari Pemerintah Propinsi Bali (1998); “The Longest Handwritten Poem Writer” dari MURI (2000); “Ajeg Bali Figure Award” dari HIPMI (2003); Penghargaan dari Junior Chamber International (2007); dan “Echosscape Wianta Galaxy” di Jepang (2008), serta masih banyak lagi. 

Made Wianta bersama Komunitas Sahaja

Tahun 1999, ia menyelenggarakan pertujukan seni “Art and Peace” melibatkan 2000 penari remaja dengan koreografi mengikuti gerak ombak. Made Wianta merespon kondisi sosial politik pasca Orde Baru yang penuh kekerasan dan cenderung chaos. Pembentangan kain sepanjang 2000 meter itu bertuliskan kata-kata perdamaian dari para tokoh dunia dalam beragam Bahasa yang dijatuhkan dari helikopter dan terhampar sepanjang Pantai Padang Galak, Denpasar.

Dalam karya-karyanya, Made Wianta piawai dalam mengkombinasikan berbagai unsur, estetis, konseptual, lokal maupun universal, serta unsur masa kini dan masa lalunya. Maestro Made Wianta berpulang pada 13 November 2020 di Denpasar.

I Gusti Ngurah Gede Pemecutan

I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, maestro dengan karakter dan ciri karya yang khas. Ia pelopor teknik melukis dengan menggunakan sidik jari. Pria kelahiran 9 Juli 1936 ini mendapatkan berbagai penghargaan dari Pemerintah Provinsi Bali, award tingkat nasional, bahkan REKOR MURI. 

Ia pernah bekerja di Perusahaan Tekstil Balitex lalu pindah ke PT. USINDO Cabang Denpasar yang kini menjadi PN Cipta Niaga setelah sempat menjadi Perusahaan Negara Jaya Bhakti. Di Jaya Bhakti ia mendapat tugas mengumpulkan dan menseleksi barang-barang seni dan kerajinan Bali (lukisan dan patung-patung) untuk di ekspor. 

Tahun 1963 ia mulai melukis secara modern. Ia pelukis ototidak tekun bereksprimen dan tak pernah mengenal lelah mencari bentuk dan Ngurah Gede Pemecutan berkisah awalnya ciri khas itu muncul saat ia mengerjakan sebuah lukisan tari baris, tepatnya pada tanggal 9 April 1967. Lukisan itu tak kunjung selesai, menimbulkan kekesalan yang membuatnya berniat merusak lukisan itu dengan menempelkan jemarinya yang penuh cat. Setelah beberapa waktu ditinggalkan, Ia merenungi lukisannya tersebut dan muncul inspirasi untuk menciptakan lukisan dengan jari telunjuk.

Ia tak Cuma seorang pelukis namun juga seorang organisator. Tahun 1966 ia mengkoordinir sekaa gong Puri Pemecutan. Sejak 1966 ia menghimpun kurang lebih 50 seniman pahat dan lukis untuk melangsungkan pameran tetap di Puri Pemecutan hingga tahun 1978 dengan nama sanggar kesenian Puri Pemecutan.

Ia kemudian mengkoordinir pementasan sekaa gong secara tetap di Puri Pemecutan untuk konsumsi wisatawan. Tercatat sekaa gong Banjar Geladag, Sidakarya, Renon, Beraban, Bagawan, Padangsambian, Kerobokan pernah pentas di Puri Pemecutan berkat jasanya. Tahun 1975 ia memimpin sekaa gong Puri Pemecutan mewakili Indonesia dalam festival musik dan seni tari rakyat Asia di Tokyo. Dalam festival seni tari Asia di Hongkong tahun 1977, ia memimpin rombongan seni tari Bali untuk mewakili Indonesia.

Salah satu karya terbaik Ngurah Gede Pemecutan adalah lukisan yang mengisahkan tentang peristiwa perang Puputan Badung. Pada lukisan tersebut digambarkan suasana pertempuran antara pasukan Badung yang dipimpin raja Pemecutan melawan pasukan Belanda. Pada akhir pertempuran seluruh pasukan Pemecutan gugur dan hanya tersisa 2 orang bayi yang selamat. Karya yang memakan waktu pengerjaan hingga 18 bulan ini tak lain menceritakan tentang ayahanda Ngurah Gede Pemecutan sendiri, yaitu Anak Agung Gede Lanang Pemecutan.

Ngurah Gede Pemecutan memang memiliki perhatian besar kepada generasi muda, sehingga Museum Lukisan Sidik Jari pun tak lepas dari visi menginspirasi tersebut. Karena itu sejak awal penggagasannya, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai wahana untuk mengabadikan karya sang maestro, tetapi juga menjadi sebuah wahana pendidikan. Selain ruang pameran, museum ini pun secara rutin mengadakan kelas tari serta melukis bagi anak-anak dan remaja.

Umbu Landu Paranggi

Umbu Landu Paranggi, lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Umbu melanjutkan sekolah di SMA BOPKRI I Yogyakarta, kuliah di Jurusan Sosiatri, Fakultas Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Hukum, Universitas Janabadra.

Sejak 1978 Umbu menetap di Bali dan pada Juli 1979 menjadi redaktur sastra di harian Bali Post. Seperti yang dilakukannya di Pelopor Yogya, di ruang sastra Bali Post Umbu dengan setia, tekun, dan telaten, menyemai dan merawat benih-benih sastrawan hingga tumbuh menjadi sosok-sosok yang dikenal dalam kesusastraan Indonesia, seperti Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta, Cok Sawitri, dan sebagainya. 

Atas prakarsa sahabat karib Umbu, Tjie Jehnsen, pada 2019 diterbitkan sebuah buku berjudul “Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”. Buku tersebut berisi sejumlah tulisan tentang kiprah Umbu dalam kesusastraan, foto kenangan, dan juga puisi-puisi Umbu. Umbu pernah mengasuh ruang sastra di mingguan Pelopor Yogya dan turut mendirikan Persada Studi Klub. Pada masa itulah Umbu dijuluki sebagai Presiden Malioboro. 

Umbu memperoleh anugerah kebudayaan, antara lain Anugerah Kebudayaan 2018 dari Fakultas Ilmu Budaya, Univertitas Indonesia, Anugerah Dharma Kusuma 2018 dari Pemerintah Provinsi Bali, Penghargaan Pengabdian pada Dunia Sastra dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada tahun 2019, Penghargaan Akademi Jakarta pada tahun 2019, Bali Jani Nugraha 2020 dari Pemerintah Provinsi Bali. Hingga kini Umbu masih menetap di Bali dan aktif membina komunitas Jatijagat Kampung Puisi.

Dokumenter "Werdhi Cipta Sang Mumpuni" 


Bagikan:

Senin, 30 November 2020

Inventarisasi Koleksi Seni Rupa Mahudara Mandara Giri Bhuvana Taman Budaya Provinsi Bali

Taman Budaya Provinsi Bali yang digagas oleh alm. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1969, sedini mula dirancang sebagai pusat tumbuhnya kesenian dan kebudayaan Pulau Dewata. Seturut upaya Taman Budaya melakukan pelestarian dan penggalian nilai-nilai serta potensi warisan budaya yang hidup di masyarakat, diresmikanlah Gedung Pameran Utama Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB) pada tahun 1973. 

Keberadaan Gedung Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB) Taman Budaya Provinsi Bali dapat dipandang sebagai mata air ilham bagi para seniman dan kreator kini dan masa depan, menimbang tak sedikit dari karya tersebut yang terbilang masterpiece, baik dari seniman-seniman Bali pendahulu yang legendaris, semisal I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kobot, A.A. Gede Sobrat, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made Poleng, atau yang mumpuni: I Nyoman Cokot, Mangku Tama (pematung), Dewa Putu Bedil, A.A. Gde Raka Turas, Dewa Putu Mokoh, I Ketut Madra, I Ketut Rungun, I Dewa Nyoman Batuan, I Wayan Bendi, dan lain-lain; hingga perupa modern sohor dari berbagai latar sosial kultural, seperti Hendra Gunawan, I Nyoman Tusan,  Agus Djaya, Kay It Tanaya, Abdul Aziz, Prof. Dr. RM Murdowo Frsa, Ida Bagus Tugur, I Gusti Ngurah Gde Pemecutan, PN. Wardana, A.A. Raka Suwasta, berikut seniman-seniman yang tak kalah terpandangnya seumpama, Nyoman Gunarsa, Prof. Rai Kalam, Made Wianta, Pande Supada, I Made Bendi Yudha, dan sebagainya. 

Maka sungguh sebuah langkah yang tepat sekaligus strategis melaksanakan program Inventarisasi Koleksi Seni di Gedung Mahudara Mandara Giri Bhuvana (MMGB) Taman Budaya Provinsi Bali Tahun 2020. Hal mana mengingat bahwa keberadaan karya-karya seni tersebut sangat berharga, bukan saja karya-karya terpilih dari para seniman mumpuni, melainkan juga secara keseluruhan mencerminkan capaian penciptaan sekaligus elan kreatif lintas generasi. Dengan demikian, koleksi ini bukan hanya sesuatu yang tangible (berwujud), melainkan juga warisan kultural intangible (budaya lisan, historis, warisan teknik, stilistik, estetik, serta ragam tematik) yang tak ternilai dari para maestro pendahulu; yang dapat dikelola sebagai sumber riset atau kajian bagi peneliti Indonesia maupun luar negeri; juga sarana edukasi guna memperoleh pemahaman sejarah dan kedalaman makna setiap karya seni yang terkoleksi di Gedung MMGB. 

Program Inventarisasi Koleksi Seni tahun 2020 ini juga terbilang tepat, terlebih pendataan terakhir pada tahun 2019 lalu hanya menginventarisasi sebagian kecil koleksi karya seni di Gedung MMGB Taman Budaya, yakni 15 karya seni lukis saja. Jumlah tersebut tidak lebih 3% dari keseluruhan koleksi seni yang terdata pada program inventarisasi tahun 2020. 

Melalui program kali ini, telah terinventarisasi sejumlah koleksi karya seni yang terpajang di lantai 1 dan 2 Gedung MMGB; terdiri dari seni lukis karya-karya seniman Bali pendahulu (Ruang I & III), yang secara stilistik, tematik atau estetik mengembangkan corak dan nilai-nilai tradisi, serta melakukan inovasi yang terbilang mempribadi. Seni lukis modern (Ruang V & VI); patung; pandil; topeng; serta wayang (Ruang II); juga karya seni patung; kerajinan perak; keramik; dan kriya lainnya (Ruang IV). Total terdata adalah 432 karya seni yang terdiri dari; 156 lukisan, 111 patung, 7 pandil, 33 topeng, 22 wayang, 59 kerajinan perak, 24 kerajinan keramik, 2 kerajinan pis bolong, 2 kerajinan beruk, 2 kerajinan telur, 3 kerajinan bambu, 4 ukiran tulang, 5 ukiran gading, dan 2 krupak lontar. 

Sedini awal pelaksanan inventarisasi pada Juli 2020, Yayasan Sahaja Sehati yang dipercaya sebagai tim pelaksana, bersama kurator dan tim pendukung, melakukan pendalaman pada riset awal. Pertama terkait kondisi dan penempatan karya-karya seni di Gedung MMGB secara keseluruhan. Sejurus itu, tim juga melakukan pengumpulan data awal baik dari internal maupun wawancara pada pihak-pihak yang dipandang kompeten, sehubungan keberadaan karya-karya seni yang terdapat di Taman Budaya. Selain pengumpulan data dimaksud, tim pendukung berikut kurator, melakukan riset kepustakaan, terutama terfokus pada keberadaan dan sejarah Taman Budaya; khususnya Gedung MMGB. Merangkum data dan fakta sejumlah peristiwa pameran yang pernah berlangsung di Taman Budaya, di mana terbukti kemudian bahwa sebagian karya-karya yang menjadi objek inventarisasi sempat menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa pameran dimaksud. 

Melalui pelaksanaan tahapan awal inventarisasi, segera dapat dipetakan berbagai hal yang memerlukan perhatian tersendiri dalam rangka validasi data dan fakta menyangkut keberadaan koleksi karya seni. Ditemukan sejumlah ketidaksesuaian informasi (judul, nama seniman, ukuran, medium, tahun penciptaan). Ada beberapa karya seni patung dan kerajinan yang anonim (belum tertera nama pada caption) juga dalam penjelasan dari data yang ada. 

Mengingat minimnya data yang tersedia, secara resmi di Taman Budaya maupun dari sumber-sumber dokumentasi resmi lainnya; maka berbagai data tersebut divalidasi oleh tim inventarisasi melalui penggalian informasi pada sumber pustaka yang dipandang sahih yakni buku-buku seni rupa terpandang antara lain: Buku Pita Prada ditulis oleh Agus Dermawan T. Jean Couteau, dan Kun Adnyana; Bali Bravo oleh Agus Dermawan T. dan Jean Couteau; Siyu Taksu Bali oleh Agus Darmawan T. dan Jean Couteau; Tradisi dan Reputasi (Pameran Lukisan Tradisional Bali 100 Tahun); Inventing Art: The Paintings of Batuan Bali; Biografi I Gusti Nyoman Lempad “Lempad for The World” oleh I Wayan Seriyoga Parta; Para Anak Mengganggu Men Brayut: I Gusti Nyoman Lempad oleh I Made Susanta Dwitanaya; Perjalanan Seni Rupa Indonesia: dari Zaman Pra Sejarah hingga Masa Kini; Perjalanan Seni Lukis Indonesia (Koleksi Bentara Budaya, terbitan KPG); Katalog Pameran Komunitas Kambodja; Katalog Pameran Pelukis Muda se-Indonesia (1977); Katalog Pameran Pesta Kesenian Bali (1979); Katalog Pameran Perkembangan Seni Lukis; Pahat dan Patung Bali di Taman Budaya Denpasar (1986); Katalog Pameran Pesta Kesenian Bali (1986); Katalog Pameran Seni Terapan 1993-1994 Seni Kriya dalam Budaya Masa Kini; Katalog Pameran Retroscpective I Nyoman Mandra di Griya Santriyan Gallery; Pameran Pekan Seni Lovina (1998); Pameran Seni Lukis Akhir Tahun STSRI Yogyakarta (1991); Katalog Pameran Topeng Singapadu (2017); termasuk sejumlah tulisan lepas yang dimuat dalam jurnal ilmiah; Women, Tradition and Art History in Bali oleh Siobhan Campbell, Proses Dan Visualisasi Seni Lukis I Nyoman Mandra oleh Made Hendra Sasmita, Resensi Pameran Seni Rupa Mencari Dialek Visual Buleleng oleh Hardiman, Balinese Art versus Global Art oleh Adrian Vickers, Profil Pelukis Buleleng Setelah Masa Kemerdekaan Sampai Sekarang oleh I M. Suastika Yasa dkk, Matjong, a Master Painter of Late Colonial Bali oleh Thomas L. Cooper, hingga database dan komunitas seni rupa di Bali. Lebih jauh dapat disimak pada daftar pustaka. 

Pendalaman data, wawancara awal, serta riset kepustakaan dan dokumentasi ternyata masih menyisakan berbagai pertanyaan terkait validasi data karya dan informasi tentang seniman penciptanya. Bukan suatu kebetulan bila akhirnya tim inventarisasi dapat bertemu saksi atau tokoh sejarah yang memungkinkan ditelusurinya informasi-informasi mendasar yang diperlukan. Sosok-sosok tersebut rata-rata sudah berusia lanjut, sekitar 80 tahun, semisal pelukis I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (85) dan A.A. Raka Suwasta (81) dan Tjandra Kirana (76), Made Tubuh (79), Intan Wianta (69, Istri pelukis Made Wianta). Mereka bukan saja diminta informasi seputar data karya masing-masing, melainkan juga digali data dan fakta menyangkut koleksi karya yang terhampar dinding Gedung MMGB. 

Penelusuran juga dilakukan dengan mewawancarai langsung seniman-seniman yang masih hidup atau keluarga yang bersangkutan, diantaranya pelukis I Gusti Made Tirtha (Ubud), Wayan Sujana (Karangasem), Ida Bagus Alit (Denpasar), A.A. Gde Rai Sudjana (Padangtegal) melalui sang anak Anak Agung Purnawan, I Ketut Madra (Ubud) melalui sang anak yakni pelukis Made Beratha, juga kepada Mangku Muriati (anak Mangku Mura), dan tidak ketinggalan pelukis yang termasuk paling muda yang karyanya dikoleksi Gedung MMGB, I Ketut Suasana ‘Kabul’. 

Memang konfirmasi langsung tidak bisa dilakukan secara menyeluruh, mengingat sebagian besar seniman yang bersangkutan sudah sepuh dan bahkan tak sedikit yang telah berpulang. Penelusuran atau upaya validasi sebagaimana karya I Gusti Nyoman Lempad,  Hendra Gunawan, Mangku Mura dan Pan Semari (Kamasan), juga kami terapkan pada karya-karya lainnya yang dirasa memerlukan pendalaman dan kepastian. 

Wawancara berkali juga dilakukan bersama I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, mengingat yang bersangkutan selain sebagai pelukis yang karyanya terkoleksi Taman Budaya, juga merupakan salah satu sosok yang dipercaya oleh Gubernur Bali kala itu, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra untuk merintis pengkoleksian benda dan karya seni di Taman Budaya atau disebut Werdhi Budaya dan dikenal dengan sebutan Art Centre. Demikian pula komunikasi dengan fotografer sekaligus pelukis, Tjandra Kirana, dilakukan berkali, tujuannya tidak lain adalah menemukan data historis yang sebenarnya, terutama sehubungan dengan aktivitas Sanggar Kambodja pada masa tahun 70-80an, yang sebagian karya mereka menjadi koleksi MMGB. 

Data karya dan pencipta juga divalidasi bukan hanya menyangkut sosoknya, melainkan juga stilistik, tematik, dan estetik. Sejumlah wawancara dilakukan dengan para pengamat, pelaku (seniman) dan pencinta seni rupa yang kredibel di antaranya, JMK Pande Suteja Neka, Anak Agung Gde Rai, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn., Dr. Jean Couteau, Ketut Budiana (Padangtegal), Ketut Sadia (Batuan) dan Wayan Diana (Batuan), I Gusti Nengah Nurata (Tabanan), Mikke Susanto (Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta), Putu Wirantawan (Pelukis). 

Dalam proses pemotretan dan pendataan koleksi seni, tim inventarisasi bekerja menggunakan Standard Operating Procedure (SOP) seperti; setiap petugas tiba di lokasi dan meninggalkan lokasi wajib mengisi formulir kehadiran, mengenakan nametag/tanda pengenal dan menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19 (mengenakan masker dan sarung tangan, menggunakan handsanitizer, menjaga jarak/kontak fisik), petugas masuk ke ruangan koleksi wajib didampingi oleh staf Gedung MMGB (min. 1 orang Penanggung Jawab Ruangan) dan/atau petugas UPTD. Taman Budaya (Bagian Dokumentasi dan Informasi), selama melakukan pendataam dan pendokumentasian koleksi petugas wajib memakai saraung tangan dan masker, tidak mengubah posisi karya untuk kebutuhan pengambilan – hanya staf Gedung MMGB yang bertanggung jawab di ruangan tersebut yang diperkenankan memindahkan koleksi atas izin dan sepengetahuan pimpinan Gedung MMGB/pihak UPTD. Taman Budaya dan perwakilan Yayasan Sahaja Sehati. 

Seluruh proses dan tahapan inventarisasi tersebut dilakukan selama tiga bulan (Juli-September 2020). Namun, mengingat keterbatasan waktu pelaksanaan, maka ke depan kiranya diperlukan tahapan inventarisasi lebih menyeluruh, bahkan patut diprogramkan sebuah upaya kajian lebih mendalam terhadap karya-karya maestro, baik ragam klasik, para pendahulu maupun modern/kontemporer guna dapat disandingkan dan dibandingkan pencapaiannya dengan seniman-seniman dari belahan dunia manapun. (*)


Bagikan:

Selasa, 10 November 2020

Mendikbud Apresiasi Pegiat Budaya yang Tetap Berkarya di Tengah Pandemi

Ubud, 9 November 2020 

Dalam kunjungan kerja ke Bali, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menemukan semangat para pegiat budaya masih melaksanakan aktivitas budaya di tengah pandemi Covid-19. 

Mendikbud Nadiem Makarim beserta istri Franka F. Makarim, didampingi Agung Yudi mengapresiasi karya lukisan yang dipamerkan di ARMA (Foto: Vanesa Martida/SAHAJA)

Didampingi Franka Makarim dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidik (LPMP) Provinsi Bali, I Made Alit Dwitama; Mendikbud meninjau pelaksanaan pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) Lingkungan Puri Damai. Setelah itu kunjungan berlanjut ke Agung Rai Museum of Art dan Museum Arkeologi Gedong Arca. 

Mendikbud Nadiem Makarim beserta istri Franka F. Makarim, Agung Rai dan Agung Yudi (Foto: Vanesa Martida/SAHAJA)

Saat kunjungan di Museum ARMA, Mendikbud bersama Franka Makarim berkeliling mengapresiasi karya-karya lukisan maestro Indonesia dan Bali, juga menyaksikan proses kreatif perupa Bali yang tengah melukis. Selain itu juga menyempatkan diri mengapresiasi pameran Bali Megarupa 2020 (serangkaian Festival Bali Jani 2020) yang tengah berlangsung di Museum ARMA.

“Saya melihat dedikasi masyarakat untuk menjaga kelestarian ini, bagi saya sangat luar biasa. Walaupun di tengah krisis, mereka masih melaksanakan aktivitas seninya, masih menjaga fasilitas, dan terus menjaga aset budaya Indonesia,” ujar Mendikbud, pada Senin (9/11/2020).

Mendikbud Nadiem Makarim beserta istri Franka F. Makarim, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan Adnyana (Foto: Vanesa Martida/SAHAJA)
Agung Rai selaku founder ARMA Museum juga memberikan Buku “Saraswati in Bali: A Temple, A Museum, and a Mask” (2014) karya Ron Jenkins & Ronald Scott Jenkins sebagai cinderamata.

Sahaja Sehati turut hadir dalam kunjungan Mendikbud di Museum ARMA, Ubud dan mendokumentasikan kegiatan melalui foto-foto terpilih. 

Menutup kunjungannya, Mendikbud menyambangi rumah dinas Gubernur Bali untuk bersilaturahmi dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster.


Lihat Sumber Artikel.


Bagikan:

Sabtu, 09 Februari 2019

Rejang Shanti bersama Maestro Anak Agung Ayu Bulan Trisna Djelantik

Tari Perdamaian Untuk Negeri, Ruwat Diri Ruwat Bumi

Sebagai bentuk respon terhadap suasana negeri serta dunia global yang kerap penuh oleh keributan, ujaran kebencian, dan kekejaman antar sesama, Biyang Bulan Trisna (sang konseptor) ingin membuat sebuah tarian baru guna membagi kesadaran mengheningkan diri, menjaga dan meruwat diri, maupun lingkungan sekitar. Kita harus menjaga diri dengan menjaga hati, mulut, mata, dan telinga. Melalui tarian ini, menyatukan kalbu, menghadap sang Pencipta agar senantiasa diberikan perlindungan dan berkah. 

Rejang Shanti terinspirasi dari tari "Rejang" yang aslinya merupakan tarian sakral komunal di Bali. Ini adalah sebuah persembahan bagi semua, melalui tari, meruwat diri, dan meruwat bumi. Tari Rejang menjadi pilihan, karena termasuk dalam sembilan tarian tiga genre yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda. Namun tarian Rejang Shanti ini bertransformasi dari tarian upacara,menjadi tarian yang mensakralkan rasa syukur dan pencarian diri menuju budi luhur di dunia.

Tari ini dirancang dengan konsep untuk segala usia, dengan iringan vokal mengekplorasi olah vokal tradisi dan vokalisasi gamelan melalui seni genjek. Kostum menggunakan kain tenun endek (handwoven) warna warni, menghargai kekayaan tekstil daerah.



Program ini didukung oleh Danes Art Veranda, Bentara Budaya Bali, Yayasan Sahaja Sehati, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Relawan, Dermawan, dan Donatur.

Teaser :

Tutorial Tari :


PENARI (LATIHAN PERDANA DI BENTARA BUDAYA BALI)

Rejang Niang: Ayu Bulantrisna, Agung Kusuma Arini, Ayu Manik, Agung Putri, Dayu Bulan, Ayu Suryawati, Dayu Praba, Cok Ratih.

Rejang Biyang: Dayu Ani, Anne Laksmi, Putu Evie, Dayu Gede Sasrani, Setyowati, Dayu Indah, Koming Ayu Sri, Diah.

Rejang Jegeg: Pradnya Sasmitha, Cintya Puspita, Ana Aprilyana, Heni Widya, Putri Trisna, Dayu Gekhan, Dayu Nova, Dayu Dwita, Dayu Gayatri, Febri

Rejang Alit: Gek Padma, Dayu Tisha, Dayu Raras, Gung Gek Manggali.

VOKAL

Pangidung : Dayu Mang Ana, Putri Kuna

Pagending : Dayu Ram, Ayu Dea, Ajung Kanya, Ayu Tiara, Ayu Putri, Putri Kuna

Pagenjek : Surya Saskara, Rudy Artana, Partayasa, Edi Andika, Gung Tabanan, Suryana, Asnadi, Agus Aditya, Yogiswara, Adi Sedana, Kay, Angga, Rembo, Diana Putra.

TIM PRODUKSI

Produser : Bengkel Tari Ayu Bulan

Konseptor : Anak Agung Ayu Bulan Trisna Djelantik

Koreografer : Ida Ayu Wayan Arya Satyani

Komposer : Ida Bagus Made Widnyana

Lirik Lagu : Cok Sawitri

Dokumentasi : Vanesa Martida, Dwi Pradita





Bagikan:

Minggu, 30 November 2014

Pemutaran Film Dokumenter Maestro Pematung I Ketut Muja

Sedini tahun 2010, Sahaja Sehati--yang sebelumnya bernama Komunitas Sahaja--telah menjalin kerja sama rutin dengan lembaga kebudayaan Bentara Budaya Bali dan Udayana Science Club dalam penyelenggaraan pemutaran film berkala 'Sinema Bentara'. Kini, pada salah satu seri Sinema Bentara yang berlangsung 22-23 November 2014, dihadirkan dokumenter Memoar Para Maestro. 

Film dokumenter yang ditayangkan yakni tentang sosok pematung maestro Ketut Muja--kelahiran Singapadu, 31 Desember 1944 dan berpulang pada 20 September 2014. Pemutaran dimaknai pula dialog tentang sosok dan pokok I Ketut Muja bersama Made Supena dan Wayan Seriyoga Parta. 

Ketut Muja dikenal sebagai seniman yang menekuni seni topeng tradisi dan kemudian menciptakan karya-karya yang otentik dan modern, mengekspresikan sikap kepeduliannya terhadap kekinian dengan pilihan bentuk realis naturalistik. Sinema obituari ini akan mengetengahkan film dokumenter terkait proses cipta I Ketut Muja yang dirangkaian pula dengan diskusi, membahas capaian komposisinya dalam seni rupa Bali atau Indonesia.

(Karya Ketut Muja)

Ia belajar kepada seniman-seniman topeng mumpuni seperti I Wayan Tanggung, I Made Rondin dan I Wayan Komplit. Berangkat dari pemahaman atas seni tradisi, seniman I Ketut Muja kemudian melahirkan karya-karya patung masterpiece-nya dalam wujud realis naturalistik.

Sekitar tahun 1970-an seniman I Ketut Muja menciptakan karya-karyanya yang bertema Ramayana dan Mahabarata dengan bahan dari akar-akar kayu. Yang paling monumental adalah karya patung “Hanoman”-nya, merupakan hasil kreativitas dari gabungan topeng tradisi, gaya patung Realis-Naturalistik dan Dekoratif dengan pahatan-pahatan yang maha rumit dan sangat detail. Salah satu karyanya dapat kita saksikan pada koleksi yang tersimpan di Taman Budaya Bali yang berjudul “Hanoman Pasah”.

Kemampuannya membentuk figur-figur pewayangan pada bahan dari akar-akar kayu, menjadi inspirasi bagi pematung-pematung muda, di antaranya; I Nyoman Darwa, I Wayan Suada, I Nyoman Kendra, I Wayan Warsa, I Nyoman Rubig, I Made Jasah, I Wayan Budarma, I Wayan Widia, I Wayan Jagra, I Wayan Badra adalah murid-murid tempaan Muja berikutnya. Selain tersimpan di Daetz Museum Jerman, karya-karya I Ketut Muja telah dikoleksi oleh Mosa Museum Belgia, Park Paradisio Belgia, Latta Mahosadi Museum Denpasar, Museum Oei Hong Djien, Busan Indonesia Centre Korea dan Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII Jakarta, serta dikoleksi pula oleh perorangan diantaranya dikoleksi oleh Mr. Henry Kissinger (mantan Menlu Amerika), Ferdinand Marcos, Tengku Abdul Rachman, Ida Bagus Mantra.

Di samping dokumenter tentang Ketut Muja, ditayangkan pula film-film terpilih dari Jerman didukung Goethe Institut Jakarta. Yakni: Gerhard Richter (2011, 98 menit, sutradara Corinna Belz), Der Bilderdenker: Der Maler Gottfried Brockmann (1986, 30 menit, sutradara Per Schnell), Adolph von Menzel-Chronist mit Stift und Pinsel, Irmgard von zur Mühlen (1981, 30 menit, sutradara Irmgard von zur Mühlen), Franz Marc, H. J. Hossfeld (1980, 28 menit, sutradara: H. J. Hossfeld), Netzflickerinnen, Die – Max Liebermann (1985, 10 menit, sutradara: Reiner E. Moritz).
Bagikan:

Senin, 06 Desember 2010

Dialog Sastra dan Peluncuran Novel Karya Martin Jankowski: RUNTUHNYA TEMBOK BERLIN DI BALI


Suasana musim gugur Kota Leipzig, Jerman, menjelang jatuhnya Tembok Berlin di tahun 1989, akan dihadirkan di Bali melalui novel terkini Martin Jankowski yang akan diluncurkan pada 10 Desember 2010 mendatang.

Lewat acara diskusi yang mengambil tajuk serupa dengan judul karyanya, ‘Rabet, Runtuhnya Jerman Timur’, Martin yang juga penyair kelahiran Greifswald, kawasan Laut Baltik, Eropa, ini akan tampil memperbincangkan perkembangan kesusastraan Jerman dan Indonesia sekaligus peran sastra dalam pendidikan masyarakat, di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, dimulai pukul 08.30 WITA. Tak hanya itu, penulis yang sebelumnya telah menerbitkan antologi puisi “Detik-Detik Indonesia” yang sebagian besar memotret kehidupan kultur serta sosial negeri Indonesia dan juga Pulau Bali ini, akan mendiskusikan kaitan antara sastra dan sejarah sebuah bangsa sekaligus refleksinya terhadap kekinian di Bentara Budaya Bali pada acara Sandyakala Sastra seri ke 6, pukul 18.00 WITA, masih pada hari yang sama.

Novel ini berkisah tentang detik-detik menjelang peristiwa runtuhnya Tembok Berlin, sebagai penanda jatuhnya Negara Jerman Timur yang berhaluan ideologi sosialis. Lewat bukunya ini, Martin Jankowski, yang juga terlibat dalam peristiwa demonstasi besar-besaran menentang otokrasi Pemerintah Jerman Timur ini, tidak semata menuturkan kisah-kisah pergulatan politik yang dialami penulisnya, namun juga berupaya menghadirkan kenyataan sejarah secara lebih manusiawi dalam bahasa estetika sastrawi nan puitik.

“Tentulah, diskusi terkait novel karya Martin Jankowski beserta refleksinya terhadap sejarah serta kultur kesusastraan salah satu bangsa Eropa ini dapat menjadi materi pembelajaran yang penting, tidak hanya bagi peserta didik di Fakultas ini, namun juga generasi muda Bali secara keseluruhan. Saya kira, diskusi-diskusi seperti ini tidak semata memperkenalkan khazanah kebudayaan luar Nusantara, namun sekaligus juga dapat menjadi sebentuk studi perbandingan yang strategis demi perkembangan kehidupan sastra di Bali, dan juga Indonesia,” ujar Pembantu Dekan III Fakultas Sastra Universitas Udayana, Drs. I Wayan Sama, M.Hum.

Senada dengan Wayan Sama, Koordinator Acara di Bali, Ni Ketut Sudiani, juga menyampaikan bahwa diskusi sastra seperti ini hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, dengan menghadirkan penulis-penulis mumpuni dan mengangkat tema-tema lebih beragam, yang pelaksanaannya didukung dari berbagai pihak. “Program Dialog dan Peluncuran Buku ini sendiri telah digelar di berbagai kota di Indonesia, seperti Banda Aceh, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Papua,” ujar Ni Ketut Sudiani seraya menambahkan bahwa kegiatan di Bali ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Sahaja, Fakultas Sastra Universitas Udayana serta Bentara Budaya Bali, sebuah ruang publik kebudayaan bagian dari Keluarga Besar Kompas-Gramedia.

Di samping dikenal sebagai penulis dan penyair, yang semasa tahun 1980-an peredaran karya-karyanya dilarang oleh Stasi (Polisi Rahasia Jerman Timur) Martin Jankowski adalah juga penulis lirik lagu untuk gerakan bawah tanah kaum opisisi Leipzig. Setelah runtuhnya kuasa pemerintah dan jatuhnya Tembok Berlin, Martin mulai aktif kembali menerbitkan tulisan-tulisannya, baik berupa esai, cerpen, novel dan karya-karya non fiksi.

Diskusi sastra mendatang ini tidak hanya diperkaya oleh kehadiran penulisnya untuk berbagi pengalaman kreatif, namun juga dimaknai oleh pementasan apresiasi sastra dari penyair dan penggiat sastra di Bali. “Bolehlah dikata, dialog ini bukan hanya dapat dipandang sebagai sebuah refleksi terhadap sastra Jerman maupun Indonesia, melainkan juga upaya untuk menghargai sejarah masa lampau serta memaknai kekinian dan masa depan kita,” ujar Wayan Sama.

Bagikan:

RISET SENI

KOLABORASI

EKSPRESSO 88

HUBUNGI KAMI

Nama

Email *

Pesan *